Minggu, 14 November 2010

sejarah berdirinya gereja katolik pecinta damai

SEKILAS SEJARAH BERDIRINYA GEREJA KATOLIK RATU PENCINTA DAMAI (PAROKI RPD POGOT)

CIKAL-BAKAL PAROKI RPD POGOT
Sekitar tahun 1963-1964 daerah Pogot dan sekitarnya sebagian besar masih berupa rawa, padang ilalang, dan persawahan. Rumah-rumah penduduk masih sedikit sekali demikian juga sarana dan prasarana pendukungnya. Namun demikian daerah Pogot dan sekitarnya sudah ada beberapa keluarga yang memeluk agama Katolik. Merekalah yang merupakan “Cikal Bakal” Gereja Pogot.

Dari waktu-kewaktu umat Katolik di daerah Pogot dan sekitarnya semakin banyak. Melihat perkembangan semacam itu, salah satu tokoh umat setempat yaitu Bapak A.Y. Medjik (Granting Baru IV/16) merelakan rumahnya untuk tempat berkumpulnya umat Katolik, sekaligus sebagai tempat pelajaran agama, dan juga sebagai kapel. Setiap hari Minggu sore diadakan misa yang dilayani oleh para romo dari Paroki Kepanjen a.l. :
Rm. A. Siswadi, CM, Rm. L. Tjahyo Kusumo. Ditempat ini juga diadakan baptisan baru.

Pada saat itu (1972) Paroki Kepanjen terbagi menjadi 4 wilayah. Daerah Pogot dan sekitarnya masuk Wilayah IV, yang saat itu Ketua Wilayahnya adalah Bpk. Y. Hidayat Tanuhandaru. Selanjutnya Wilayah IV dibagi menjadi 4 kring (lingkungan) yaitu : Lingkungan 4K, 4L, 4M, 4N. Daerah Pogot dan sekitarnya masuk Wilayah IVN.

Atas perjuangan tokoh-tokoh umat setempat, perkembangan umat Pogot cukup pesat. Persoalan yang muncul ialah sulitnya untuk mengikuti misa, karena tempat mereka tersebar didaerah yang luas. Menyikapi masalah tersebut, beberapa tokoh umat (Bpk. H.Y. Saliman, Bpk M.S. Poerwanto dan Bpk. A.Y. Medjik) memberitahukan kepada Keuskupan Surabaya bahwa umat Katolik di daerah Pogot dan sekitarnya sudah cukup banyak dan menanyakan apa mungkin di Wilayah IV didirikan tempat ibadah (gedung gereja). Romo Vikjen (Rm. A. Dibyokaryono, Pr.) menyarankan agar menghadap Romo Kepala Paroki Kepanjen. Akhirnya ketiga tokoh umat tadi menghadap Romo Paroki Kepanjen untuk menyampaikan masalahnya. Romo Paroki Kepanjen (Rm. A. Siswadi, CM sebagai Romo Wilayah IV) langsung mendukungnya.

PROSES BERDIRINYA GEREJA DAN PERIJINAN
Sejalan dengan perkembangan umat maka para tokoh umat beserta Ketua-ketua Lingkungan pada th 1975 mengusulkan kepada Paroki Kepanjen (Rm. Heuvelmans, CM) agar didaerah Pogot (sekitarnya) didirikan gereja. Paroki Kepanjen menyetujui dan menyuruh mencari lokasi yang tepat. Ada beberapa lokasi yang ditawarkan, namun yang dipilih adalah Jl. Pogot Baru No77 (wilayah Kelurahan Tanah Kalikedinding).
Tgl.10 April 1978, Walikota Kepala Daerah Tk. II Surabaya dalam rekomendasi No. 35/Prins/78, menyatakan :
Setelah memperhatikan dan mempertimbangkan segala sesuatunya; memberikan persetujuan prinsip lokasi untuk mendirikan Gereja Katolik, Pogot di Desa Tanah Kalikedinding, Kec. Sukolilo, Surabaya, pada areal seluas + 1.920 m2.
Tgl 7 Mei 1980, Walikota Kepala Daerah Tk. II Surabaya dalam Surat Keputusan No. 1283/B/80 menyatakan :
Setelah membaca, mengingat dan mempertimbangkan, memutuskan :
Memberikan ijin :
Mendirikan sebuah bangunan dari batu sebagian bertingkat dua.
Mengerjakan pagar dari batu/besi di Pogot Baru, Kec. Sukolilo Surabaya.
Menetapkan uang sempadan dan uang ijin bangunan.
Karena lokasi sudah ditetapkan, semua rekomendasi dan perijinan sudah diterima, maka dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Gereja. Selanjutnya pembangunan gedung gereja dimulai.

SUMBER DANA
Dana diperoleh dari kerjasama antara Paroki Kepanjen dan Paroki Kristus Raja serta Kongregasi Misi Indonesia.

PEMBERKATAN GEDUNG GEREJA
Pada tahun 1979 pembangunan gedung gereja sudah jadi meski belum sempurna. Rm. L. Tjahyo Kusumo, CM memberkati gedung gereja ini. Sejak saat itulah gedung gereja ini menjadi pusat kegiatan dan palayanan sakramen. Umat yang semula merayakan Ekaristi dibeberapa tempat mulai berkumpul dan merayakan Ekaristi di gedung gereja baru ini. Akhirnya kegiatan keagamaan di rumah Bpk. A.Y. Medjik dihentikan.

Pada awal tahun 1981 pembangunan gedung gereja sudah selesai sepenuhnya. Pada tanggal 25 Januari 1981 Mgr. Yohanes Klooster, CM (Uskup Surabaya) berkenan memberkati gedung gereja dengan nama pelindung “Ratu Pencinta Damai”,yang menurut penanggalan liturgi gereja dirayakan setiap tanggal 9 Juli. Mengambil nama pelindung “Ratu Pencinta Damai” ini diharapkan umat Pogot mampu meneladan Maria sebagai pribadi yang mencintai perdamaian dan mampu menjadi Gereja yang membawa damai kepada masyarakat sekitar dan sesama.

BENIH TERUS BERKEMBANG
Berdirinya gedung gereja merupakan titik perubahan dari Gereja diaspora yang terpencar-pencar menjadi sebuah Gereja yang satu, yang mempersatukan bangunan Tubuh Kristus yang kecil-kecil menjadi sebuah Tubuh Kristus yang lebih besar. Disisi lain, jumlah umat terus berkembang seiring dengan pertambahan penduduk dan banyaknya orang yang menjadi percaya pada Kristus.
Benih iman juga semakin berkembang dengan dipanggilnya beberapa putra-putri Gereja RPD masuk Seminari dan Biarawati untuk bekerja di ladang Tuhan.Mereka yang terpanggil dan terpilih itu adalah :
1.Romo Paulus Eko Nurbandrio CM
2.Romo Gabriel Dwi Herry Purwanto Pr.
3.Romo Frensius Supriyadi CM
4.Romo Robby Setiawan O’Carm
5.Suster Stefani S.Sp.S
6.Suster Fransiska S.Sp.S

Perkembangan ini juga berpengaruh pada status keadministrasian Gereja.Pada awalnya umat Pogot termasuk dalam teritori Paroki Kristus Raja namun pelayanannya ikut Paroki Kelahiran St. Perawan Maria (Kepanjen).Mengingat perkembangan jumlah umat semakin banyak maka Paroki Kepanjen dan Paroki Kristus Raja bekerja sama mempersiapkan daerah Pogot dan sekitarnya menjadi wilayah tersendiri.

Dalam proses selanjutnya pada tahun 1980 terjadi pengembalian Wilayah Pogot dari Paroki Kelahiran St. Perawan Maria (Kepanjen) ke Paroki Kristus Raja (Ketabang). Rm. Everard Van Mansvoort, CM sebagai Romo Paroki Kristus Raja menjadikan Wilayah Pogot yang memiliki kring (lingkungan) IV K, IV L, IV M, IV N menjadi Wilayah D Paroki Kristus Raja dan selanjutnya memecahnya menjadi 6 kring (lingkungan) dengan koordinator Bpk. R.D. Mardjono.

Enam lingkungan tersebut adalah :

Lingk Meliputi daerah Ketua Lingkungan
I.D Karang Tembok, Endrosono dan Wonokusumo Lor Bpk. A. Sunaryo
II.D Mrutu-Kalianyar dan Bulak Banteng Lor Bpk. A. Widjoko
III.D Tenggumung Baru Selatan, Tenggumung Wetan, Tenggumung Karya, Wonokusumo Kidul, Kedung Mangu, dan Sidotopo Wetan Bpk. Y. Sutrasno
IV.D Granting, Granting Baru, Sidotopo Luar, Platuk dan Pogot Bpk. AL Tubandi
V.D Sidoyoso, Granting Baru dan Kenjeran Bpk. AF Suryadifa
VI.D Kapas Lor, Kapas Baru, Kapas Madya, Tuwowo, Pogot Lama, Tanah Merah, Gading Madya, Lebak Jaya, Kedung Cowek, Kedinding, Dukuh Bulak Banteng Timur, dan Tambak Wedi Bpk. L. Hadi Susanto

Namun nama Wilayah D ini tidak berlangsung lama. Pada tanggal 9 September 1984 Rapat Dewan Pleno Kristus Raja memutuskan pergantian nama Wilayah D menjadi Wilayah C dengan Ketua Wilayah Bpk. M.S. Purwanto. Dengan demikian beliaulah Ketua Wilayah yang pertama sebab sebelumnya hanya bersifat koordinator lingkungan. Berikutnya terjadi beberapa kali pergantian Ketua Wilayah (Bpk. Ig. Mardiana, T.S. Handoko), dan Rm. B. Martokusumo, CM sebagai Romo Wilayah. Selanjutnya Wilayah C menjadi Stasi Ratu Pencinta Damai Pogot. Ketua Stasi pertama ialah Bpk. Y. Samsudi. Tahun 2000 Stasi RPD dipecah menjadi 4 wilayah (St. Anna, St. Bernadetta, St. Caesilia, St. Dorothea) dan tiap wilayah membawahi 4 lingkungan. Jadi dalam perkembangannya Stasi RPD memiliki 16 lingkungan yang nama lingkungannya mengikuti nama wilayahnya.

STASI RPD MENJADI PAROKI RPD
Seiring dengan perkembangan umat yang tersebar di 4 wilayah/16 lingkungan, Pengurus dewan tergerak untuk memikirkan secara lebih serius tentang masa depan Gereja Pogot. Untuk itu Pengurus Dewan berulang kali mengadakan pertemuan untuk membahas hal tersebut. Akhirnya disepakati untuk mengusulkan Stasi Pogot menjadi Paroki Pogot kepada Bpk. Uskup Surabaya. Hal ini dilakukan karena diperhitungkan syarat-syarat untuk menjadi sebuah paroki sudah mencukupi. Saran Bpk. Uskup (Mgr. Hadiwikarto – Alm.) agar acara peresmian menjadi paroki itu dilaksanakan dalam misa khusus pada tanggal 25 Januari 2004.

Mengetahui hal tersebut Dewan Stasi Pogot lalu mengadakan persiapan-persiapan seperlunya. Dan akhirnya betul-betul menjadi kenyataan, hari Minggu tanggal 25 Januari 2004 Stasi Pogot diresmikan menjadi Paroki Ratu Pencinta Damai (Pogot). Peresmian dilakukan oleh Rm. Y. Haryanto, CM selaku Administrator Keuskupan Surabaya. Hadir dalam acara tersebut : Romo-romo yang pernah bertugas di Gereja RPD, Romo Antonius Sad Budianto CM sebagai Propinsial CM Indonesia, Romo-romo tamu,beberapa suster, Pengurus Dewan Paroki RPD, para undangan dan segenap umat RPD-Pogot.

Romo-romo yang bertugas di Stasi RPD adalah sebagai berikut :
1.Rm.Ch.Katidjanarso CM
2.Rm.L.Agus Sudaryanto CM
3.Rm.Yustinus CM
4.Rm.Anto De Brito CM
5.Rm.Antonius Yuni Wimarta CM
6.Rm.Yohanes Gani Sukarsono CM
7.Rm.Tandyasukmana CM

KETERANGAN KEWILAYAHAN PAROKI RPD

WIL LINGKUNGAN WILAYAH MELIPUTI KETUA LINGKUNGAN
A Anna 1 Endrosono, Wonokusumo, Wonokusumo Lor, Wonosari, Wonosari Lor, Wonosari Wetan Baru, Tenggumung Karya Lor, Wonokusumo Kidul Yosef Adi Widayat

Anna 2 Bulak Sari, Bulak Jaya, Wonosari Mulyo, Bulak Rukem, Tenggumung Wetan Yustinus Agus Nogroho

Anna 3 Bulak Banteng Lor, Bulak Banteng Baru, Bulak Banteng Kidul, Dukuh Bulak Banteng, Bulak Banteng Madya Robertus Sunardi T.A

Anna 4 Randu Barat, Randu Timur, Kedungmangu Selatan, Kedungmangu Timur, Platuk Donomulyo Yosef Bernadus Bambang Irawan
B Bernadet 1 Tenggumung Baru, Tenggumung Baru Selatan, Sidomulyo, Wonokusumo Jaya, Wonokusumo Pinggir. Laurensius Rua

Bernadet 2 Granting Baru, Sidotopo Wetan, Pogot Baru, Platuk Timur Fransiskus Kurniawan

Bernadet 3 Granting Selatan, Granting, Sidoyoso, Sidoyoso Wetan Rosa Subiakto

Bernadet 4 Sidotopo Wetan Luar, Sidotopo Wetan Baru, Sidotopo Wetan Indah, Sidotopo Wetan Mulya, Platuk Baru, Platuk Barat Martinus Aris Winarso
C Cicilia 1 Tanah Merah, Tanah Merah Utara, Kedinding Tengah Baru, Kalilom Agustinus Sugeng Harijanto

Cicilia 2 Bulak Rukem Timur, Bulak Cumpat, Bulak Kalitinjang, Bulak Bagorami, Kedinding Tengah Tengah Sekolahan, Nambangan Antonius Welly Herowanto

Cicilia 3 Tambak Wedi, Tambak Wedi Baru, Dukuh Bulak Banteng Timur, Kedinding Lor Maria Magdalena Marut

Cicilia 4 Pogot Lama, Pogot Jaya, Kaliom Baru Stephanus Suwardji
D Dorothea 1 Tuwowo Rejo, Tuwowo, Tuwowo Rejo Kali Yohanes Suswanto

Dorothea 2 Kapas Madya, Kapas Madya Barat Ignatius Suhartoyo

Dorothea 3 Kapas Jaya, Kapas Baru, Kapas Lor Wetan Agustinus Ganda Sukmana

Dorothea 4 Kapas Gading Madyas, Gading,Gading Karya, Dukuh Setro, Dukuh Setro Utara, Lebak Jaya, Setro Theresia Nyoman Sutari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar