Minggu, 14 November 2010
sejarah berdirinya gereja katolik pecinta damai
SEKILAS SEJARAH BERDIRINYA GEREJA KATOLIK RATU PENCINTA DAMAI (PAROKI RPD POGOT)CIKAL-BAKAL PAROKI RPD POGOT
Sekitar tahun 1963-1964 daerah Pogot dan sekitarnya sebagian besar masih berupa rawa, padang ilalang, dan persawahan. Rumah-rumah penduduk masih sedikit sekali demikian juga sarana dan prasarana pendukungnya. Namun demikian daerah Pogot dan sekitarnya sudah ada beberapa keluarga yang memeluk agama Katolik. Merekalah yang merupakan “Cikal Bakal” Gereja Pogot.
Dari waktu-kewaktu umat Katolik di daerah Pogot dan sekitarnya semakin banyak. Melihat perkembangan semacam itu, salah satu tokoh umat setempat yaitu Bapak A.Y. Medjik (Granting Baru IV/16) merelakan rumahnya untuk tempat berkumpulnya umat Katolik, sekaligus sebagai tempat pelajaran agama, dan juga sebagai kapel. Setiap hari Minggu sore diadakan misa yang dilayani oleh para romo dari Paroki Kepanjen a.l. :
Rm. A. Siswadi, CM, Rm. L. Tjahyo Kusumo. Ditempat ini juga diadakan baptisan baru.
Pada saat itu (1972) Paroki Kepanjen terbagi menjadi 4 wilayah. Daerah Pogot dan sekitarnya masuk Wilayah IV, yang saat itu Ketua Wilayahnya adalah Bpk. Y. Hidayat Tanuhandaru. Selanjutnya Wilayah IV dibagi menjadi 4 kring (lingkungan) yaitu : Lingkungan 4K, 4L, 4M, 4N. Daerah Pogot dan sekitarnya masuk Wilayah IVN.
Atas perjuangan tokoh-tokoh umat setempat, perkembangan umat Pogot cukup pesat. Persoalan yang muncul ialah sulitnya untuk mengikuti misa, karena tempat mereka tersebar didaerah yang luas. Menyikapi masalah tersebut, beberapa tokoh umat (Bpk. H.Y. Saliman, Bpk M.S. Poerwanto dan Bpk. A.Y. Medjik) memberitahukan kepada Keuskupan Surabaya bahwa umat Katolik di daerah Pogot dan sekitarnya sudah cukup banyak dan menanyakan apa mungkin di Wilayah IV didirikan tempat ibadah (gedung gereja). Romo Vikjen (Rm. A. Dibyokaryono, Pr.) menyarankan agar menghadap Romo Kepala Paroki Kepanjen. Akhirnya ketiga tokoh umat tadi menghadap Romo Paroki Kepanjen untuk menyampaikan masalahnya. Romo Paroki Kepanjen (Rm. A. Siswadi, CM sebagai Romo Wilayah IV) langsung mendukungnya.
PROSES BERDIRINYA GEREJA DAN PERIJINAN
Sejalan dengan perkembangan umat maka para tokoh umat beserta Ketua-ketua Lingkungan pada th 1975 mengusulkan kepada Paroki Kepanjen (Rm. Heuvelmans, CM) agar didaerah Pogot (sekitarnya) didirikan gereja. Paroki Kepanjen menyetujui dan menyuruh mencari lokasi yang tepat. Ada beberapa lokasi yang ditawarkan, namun yang dipilih adalah Jl. Pogot Baru No77 (wilayah Kelurahan Tanah Kalikedinding).
Tgl.10 April 1978, Walikota Kepala Daerah Tk. II Surabaya dalam rekomendasi No. 35/Prins/78, menyatakan :
Setelah memperhatikan dan mempertimbangkan segala sesuatunya; memberikan persetujuan prinsip lokasi untuk mendirikan Gereja Katolik, Pogot di Desa Tanah Kalikedinding, Kec. Sukolilo, Surabaya, pada areal seluas + 1.920 m2.
Tgl 7 Mei 1980, Walikota Kepala Daerah Tk. II Surabaya dalam Surat Keputusan No. 1283/B/80 menyatakan :
Setelah membaca, mengingat dan mempertimbangkan, memutuskan :
Memberikan ijin :
Mendirikan sebuah bangunan dari batu sebagian bertingkat dua.
Mengerjakan pagar dari batu/besi di Pogot Baru, Kec. Sukolilo Surabaya.
Menetapkan uang sempadan dan uang ijin bangunan.
Karena lokasi sudah ditetapkan, semua rekomendasi dan perijinan sudah diterima, maka dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Gereja. Selanjutnya pembangunan gedung gereja dimulai.
SUMBER DANA
Dana diperoleh dari kerjasama antara Paroki Kepanjen dan Paroki Kristus Raja serta Kongregasi Misi Indonesia.
PEMBERKATAN GEDUNG GEREJA
Pada tahun 1979 pembangunan gedung gereja sudah jadi meski belum sempurna. Rm. L. Tjahyo Kusumo, CM memberkati gedung gereja ini. Sejak saat itulah gedung gereja ini menjadi pusat kegiatan dan palayanan sakramen. Umat yang semula merayakan Ekaristi dibeberapa tempat mulai berkumpul dan merayakan Ekaristi di gedung gereja baru ini. Akhirnya kegiatan keagamaan di rumah Bpk. A.Y. Medjik dihentikan.
Pada awal tahun 1981 pembangunan gedung gereja sudah selesai sepenuhnya. Pada tanggal 25 Januari 1981 Mgr. Yohanes Klooster, CM (Uskup Surabaya) berkenan memberkati gedung gereja dengan nama pelindung “Ratu Pencinta Damai”,yang menurut penanggalan liturgi gereja dirayakan setiap tanggal 9 Juli. Mengambil nama pelindung “Ratu Pencinta Damai” ini diharapkan umat Pogot mampu meneladan Maria sebagai pribadi yang mencintai perdamaian dan mampu menjadi Gereja yang membawa damai kepada masyarakat sekitar dan sesama.
BENIH TERUS BERKEMBANG
Berdirinya gedung gereja merupakan titik perubahan dari Gereja diaspora yang terpencar-pencar menjadi sebuah Gereja yang satu, yang mempersatukan bangunan Tubuh Kristus yang kecil-kecil menjadi sebuah Tubuh Kristus yang lebih besar. Disisi lain, jumlah umat terus berkembang seiring dengan pertambahan penduduk dan banyaknya orang yang menjadi percaya pada Kristus.
Benih iman juga semakin berkembang dengan dipanggilnya beberapa putra-putri Gereja RPD masuk Seminari dan Biarawati untuk bekerja di ladang Tuhan.Mereka yang terpanggil dan terpilih itu adalah :
1.Romo Paulus Eko Nurbandrio CM
2.Romo Gabriel Dwi Herry Purwanto Pr.
3.Romo Frensius Supriyadi CM
4.Romo Robby Setiawan O’Carm
5.Suster Stefani S.Sp.S
6.Suster Fransiska S.Sp.S
Perkembangan ini juga berpengaruh pada status keadministrasian Gereja.Pada awalnya umat Pogot termasuk dalam teritori Paroki Kristus Raja namun pelayanannya ikut Paroki Kelahiran St. Perawan Maria (Kepanjen).Mengingat perkembangan jumlah umat semakin banyak maka Paroki Kepanjen dan Paroki Kristus Raja bekerja sama mempersiapkan daerah Pogot dan sekitarnya menjadi wilayah tersendiri.
Dalam proses selanjutnya pada tahun 1980 terjadi pengembalian Wilayah Pogot dari Paroki Kelahiran St. Perawan Maria (Kepanjen) ke Paroki Kristus Raja (Ketabang). Rm. Everard Van Mansvoort, CM sebagai Romo Paroki Kristus Raja menjadikan Wilayah Pogot yang memiliki kring (lingkungan) IV K, IV L, IV M, IV N menjadi Wilayah D Paroki Kristus Raja dan selanjutnya memecahnya menjadi 6 kring (lingkungan) dengan koordinator Bpk. R.D. Mardjono.
Enam lingkungan tersebut adalah :
| Lingk | Meliputi daerah | Ketua Lingkungan |
| I.D | Karang Tembok, Endrosono dan Wonokusumo Lor | Bpk. A. Sunaryo |
| II.D | Mrutu-Kalianyar dan Bulak Banteng Lor | Bpk. A. Widjoko |
| III.D | Tenggumung Baru Selatan, Tenggumung Wetan, Tenggumung Karya, Wonokusumo Kidul, Kedung Mangu, dan Sidotopo Wetan | Bpk. Y. Sutrasno |
| IV.D | Granting, Granting Baru, Sidotopo Luar, Platuk dan Pogot | Bpk. AL Tubandi |
| V.D | Sidoyoso, Granting Baru dan Kenjeran | Bpk. AF Suryadifa |
| VI.D | Kapas Lor, Kapas Baru, Kapas Madya, Tuwowo, Pogot Lama, Tanah Merah, Gading Madya, Lebak Jaya, Kedung Cowek, Kedinding, Dukuh Bulak Banteng Timur, dan Tambak Wedi | Bpk. L. Hadi Susanto |
Namun nama Wilayah D ini tidak berlangsung lama. Pada tanggal 9 September 1984 Rapat Dewan Pleno Kristus Raja memutuskan pergantian nama Wilayah D menjadi Wilayah C dengan Ketua Wilayah Bpk. M.S. Purwanto. Dengan demikian beliaulah Ketua Wilayah yang pertama sebab sebelumnya hanya bersifat koordinator lingkungan. Berikutnya terjadi beberapa kali pergantian Ketua Wilayah (Bpk. Ig. Mardiana, T.S. Handoko), dan Rm. B. Martokusumo, CM sebagai Romo Wilayah. Selanjutnya Wilayah C menjadi Stasi Ratu Pencinta Damai Pogot. Ketua Stasi pertama ialah Bpk. Y. Samsudi. Tahun 2000 Stasi RPD dipecah menjadi 4 wilayah (St. Anna, St. Bernadetta, St. Caesilia, St. Dorothea) dan tiap wilayah membawahi 4 lingkungan. Jadi dalam perkembangannya Stasi RPD memiliki 16 lingkungan yang nama lingkungannya mengikuti nama wilayahnya.
STASI RPD MENJADI PAROKI RPD
Seiring dengan perkembangan umat yang tersebar di 4 wilayah/16 lingkungan, Pengurus dewan tergerak untuk memikirkan secara lebih serius tentang masa depan Gereja Pogot. Untuk itu Pengurus Dewan berulang kali mengadakan pertemuan untuk membahas hal tersebut. Akhirnya disepakati untuk mengusulkan Stasi Pogot menjadi Paroki Pogot kepada Bpk. Uskup Surabaya. Hal ini dilakukan karena diperhitungkan syarat-syarat untuk menjadi sebuah paroki sudah mencukupi. Saran Bpk. Uskup (Mgr. Hadiwikarto – Alm.) agar acara peresmian menjadi paroki itu dilaksanakan dalam misa khusus pada tanggal 25 Januari 2004.
Mengetahui hal tersebut Dewan Stasi Pogot lalu mengadakan persiapan-persiapan seperlunya. Dan akhirnya betul-betul menjadi kenyataan, hari Minggu tanggal 25 Januari 2004 Stasi Pogot diresmikan menjadi Paroki Ratu Pencinta Damai (Pogot). Peresmian dilakukan oleh Rm. Y. Haryanto, CM selaku Administrator Keuskupan Surabaya. Hadir dalam acara tersebut : Romo-romo yang pernah bertugas di Gereja RPD, Romo Antonius Sad Budianto CM sebagai Propinsial CM Indonesia, Romo-romo tamu,beberapa suster, Pengurus Dewan Paroki RPD, para undangan dan segenap umat RPD-Pogot.
Romo-romo yang bertugas di Stasi RPD adalah sebagai berikut :
1.Rm.Ch.Katidjanarso CM
2.Rm.L.Agus Sudaryanto CM
3.Rm.Yustinus CM
4.Rm.Anto De Brito CM
5.Rm.Antonius Yuni Wimarta CM
6.Rm.Yohanes Gani Sukarsono CM
7.Rm.Tandyasukmana CM
KETERANGAN KEWILAYAHAN PAROKI RPD
| WIL | LINGKUNGAN | WILAYAH MELIPUTI | KETUA LINGKUNGAN |
| A | Anna 1 | Endrosono, Wonokusumo, Wonokusumo Lor, Wonosari, Wonosari Lor, Wonosari Wetan Baru, Tenggumung Karya Lor, Wonokusumo Kidul | Yosef Adi Widayat |
| Anna 2 | Bulak Sari, Bulak Jaya, Wonosari Mulyo, Bulak Rukem, Tenggumung Wetan | Yustinus Agus Nogroho | |
| Anna 3 | Bulak Banteng Lor, Bulak Banteng Baru, Bulak Banteng Kidul, Dukuh Bulak Banteng, Bulak Banteng Madya | Robertus Sunardi T.A | |
| Anna 4 | Randu Barat, Randu Timur, Kedungmangu Selatan, Kedungmangu Timur, Platuk Donomulyo | Yosef Bernadus Bambang Irawan | |
| B | Bernadet 1 | Tenggumung Baru, Tenggumung Baru Selatan, Sidomulyo, Wonokusumo Jaya, Wonokusumo Pinggir. | Laurensius Rua |
| Bernadet 2 | Granting Baru, Sidotopo Wetan, Pogot Baru, Platuk Timur | Fransiskus Kurniawan | |
| Bernadet 3 | Granting Selatan, Granting, Sidoyoso, Sidoyoso Wetan | Rosa Subiakto | |
| Bernadet 4 | Sidotopo Wetan Luar, Sidotopo Wetan Baru, Sidotopo Wetan Indah, Sidotopo Wetan Mulya, Platuk Baru, Platuk Barat | Martinus Aris Winarso | |
| C | Cicilia 1 | Tanah Merah, Tanah Merah Utara, Kedinding Tengah Baru, Kalilom | Agustinus Sugeng Harijanto |
| Cicilia 2 | Bulak Rukem Timur, Bulak Cumpat, Bulak Kalitinjang, Bulak Bagorami, Kedinding Tengah Tengah Sekolahan, Nambangan | Antonius Welly Herowanto | |
| Cicilia 3 | Tambak Wedi, Tambak Wedi Baru, Dukuh Bulak Banteng Timur, Kedinding Lor | Maria Magdalena Marut | |
| Cicilia 4 | Pogot Lama, Pogot Jaya, Kaliom Baru | Stephanus Suwardji | |
| D | Dorothea 1 | Tuwowo Rejo, Tuwowo, Tuwowo Rejo Kali | Yohanes Suswanto |
| Dorothea 2 | Kapas Madya, Kapas Madya Barat | Ignatius Suhartoyo | |
| Dorothea 3 | Kapas Jaya, Kapas Baru, Kapas Lor Wetan | Agustinus Ganda Sukmana | |
| Dorothea 4 | Kapas Gading Madyas, Gading,Gading Karya, Dukuh Setro, Dukuh Setro Utara, Lebak Jaya, Setro | Theresia Nyoman Sutari |
Minggu, 07 November 2010
sejarah perang salib
Sejarah Perang SALIB
Awal mula Perang Salib adalah Perang antar Gereja dan Yahudi, jadi bukan bermula Perang antara Kristen dan Islam, yang penengertian umum saat ini.
Berkut adalah Riwayatnya:
Perang Salib Pertama dilancarkan pada 1095 oleh Paus Urban II untuk mengambil kuasa kota suci Yerusalem dan tanah suci Kristen dari Muslim. Apa yang dimulai sebagai panggilan kecil untuk meminta bantuan dengan cepat berubah menjadi migrasi dan penaklukan keseluruhan wilayah di luar Eropa.

Pengepungan Antioch, dari lukisan miniatur abad pertengahan selama Perang Salib Pertama.
Baik ksatria dan orang awam dari banyak negara di Eropa Barat, dengan sedikit pimpinan terpusat, berjalan melalui tanah dan laut menuju Yerusalem dan menangkap kota tersebut pada Juli 1099, mendirikan Kerajaan Yerusalem atau kerajaan Latin di Yerusalem. Meskipun penguasaan ini hanya berakhir kurang dari dua ratus tahun, Perang salib merupakan titik balik penguasaan dunia Barat, dan satu-satunya yang berhasil meraih tujuannya.
Meskipun menjelang abad kesebelas sebagian besar Eropa memeluk agama Kristen secara formal — setiap anak dipermandikan, hierarki gereja telah ada untuk menempatkan setiap orang percaya di bawah bimbingan pastoral, pernikahan dilangsungkan di Gereja, dan orang yang sekarat menerima ritual gereja terakhir — namun Eropa tidak memperlihatkan diri sebagai Kerajaan Allah di dunia. Pertikaian selalu bermunculan di antara pangeran-pangeran Kristen, dan peperangan antara para bangsawan yang haus tanah membuat rakyat menderita.
Pada tahun 1088, seorang Perancis bernama Urbanus II menjadi Paus. Kepausannya itu ditandai dengan pertikaian raja Jerman, Henry IV — kelanjutan kebijakan pembaruan oleh Paus Gregorius VIII yang tidak menghasilkan apa-apa. Paus yang baru ini tidak ingin meneruskan pertikaian ini. Tetapi ia ingin menyatukan semua kerajaan Kristen. Ketika Kaisar Alexis dari Konstantinopel meminta bantuan Paus melawan orang-orang Muslim Turki, Urbanus melihat bahwa adanya musuh bersama ini akan membantu mencapai tujuannya.
Tidak masalah meskipun Paus telah mengucilkan patriark Konstantinopel, serta Katolik dan Kristen Ortodoks Timor tidak lagi merupakan satu gereja. Urbanus mencari jalan untuk menguasai Timur, sementara ia menemukan cara pengalihan bagi para pangeran Barat yang bertengkar terus.
Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan Konsili Clermont. Di sana ia menyampaikan kotbahnya yang menggerakkan: "Telah tersebar sebuah cerita mengerikan ... sebuah golongan terkutuk yang sama sekali diasingkan Allah ... telah menyerang tanah (negara) orang Kristen dan memerangi penduduk setempat dengan pedang, menjarah dan membakar." Ia berseru: "Pisahkanlah daerah itu dari tangan bangsa yang jahat itu dan jadikanlah sebagai milikmu."
"Deus vult! Deus vult! (Allah menghendakinya)," teriak para peserta. Ungkapan itu telah menjadi slogan perang pasukan Perang Salib. Ketika para utusan Paus melintasi Eropa, merekrut para ksatria untuk pergi ke Palestina, mereka mendapatkan respons antusias dari pejuang-pejuang Perancis dan Italia. Banyak di antaranya tersentak karena tujuan agamawi, tetapi tidak diragukan juga bahwa yang lain berangkat untuk keuntungan ekonomi. Ada juga yang ingin berpetualang merampas kembali tanah peziarahan di Palestina, yang telah jatuh ke tangan Muslim.
Mungkin, para pejuang tersebut merasa bahwa membunuh seorang musuh non-Kristen adalah kebajikan. Membabat orang-orang kafir yang telah merampas tanah suci orang Kristen tampaknya seperti tindakan melayani Allah.
Untuk mendorong tentara Perang Salib, Urbanus dan para paus yang mengikutinya menekankan "keuntungan" spiritual dari perang melawan orang-orang Muslim itu. Dari sebuah halaman Bible, Urbanus meyakinkan para pejuang itu bahwa dengan melakukan perbuatan ini, mereka akan langsung masuk surga, atau sekurang-kurangnya dapat memperpendek waktu di api penyucian.
Dalam perjalanannya menuju tanah suci, para tentara Perang Salib berhenti di Konstantinopel. Selama mereka ada di sana, hanya satu hal yang ditunjukkan: Persatuan antara Timur dan Barat masih mustahil. Sang kaisar melihat para prajurit yang berpakaian besi itu sebagai ancaman bagi takhtanya. Ketika para tentara Perang Salib mengetahui bahwa Alexis telah membuat perjanjian dengan orang-orang Turki, mereka merasakan bahwa "pengkhianat" ini telah menggagalkan bagian pertama misi mereka: menghalau orang-orang Turki dari Konstantinopel.
Dengan bekal dari sang kaisar, pasukan tersebut melanjutkan perjalanannya ke selatan dan timur, menduduki kota-kota Antiokhia dan Yerusalem. Banjir darah mengikuti kemenangan mereka di Kota Suci itu. Taktik para tentara Perang Salib ialah "tidak membawa tawanan". Seorang pengamat yang merestui tindakan tersebut menulis bahwa para prajurit "menunggang kuda mereka dalam darah yang tingginya mencapai tali kekang kuda".
Setelah mendirikan kerajaan Latin di Yerusalem, dan dengan mengangkat Godfrey dari Bouillon sebagai penguasanya, mereka berubah sikap, dari penyerangan ke pertahanan. Mereka mulai membangun benteng-benteng baru, yang hingga kini, sebagian darinya masih terlihat.
Pada tahun-tahun berikutnya, terbentuklah ordo-ordo baru yang bersifat setengah militer dan setengah keagamaan. Ordo paling terkenal adalah Ordo Bait Allah (bahasa Inggris: Knights Templars) dan Ordo Rumah Sakit (bahasa Inggris: Knights Hospitalers). Meskipun pada awalnya dibentuk untuk membantu para tentara Perang Salib, mereka menjadi organisasi militer yang tangguh dan berdiri sendiri.
Perang Salib pertama merupakan yang paling sukses. Meskipun agak dramatis dan bersemangat, berbagai upaya kemiliteran ini tidak menahan orang-orang Muslim secara efektif.
1. Perang Salib Rakyat.
Perang Salib Rakyat adalah bagian dari Perang Salib pertama dan berakhir kira-kira enam bulan dari April 1096 sampai Oktober. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Salib Populer.
2.Perang Salib Jerman.
Perang Salib Jerman 1096 adalah bagian dari Perang Salib pertama di mana tentara perang salib rakyat, kebanyakan dari Jerman, tidak menyerang Muslim namun orang Yahudi. Meskipun anti-semitisme telah ada di Eropa selama berabad-abad, ini merupakan pogrom massal pertama yang terorganisasi. Dalam beberapa kasus, otoritas dan pemimpin keagamaan berusaha melindungi orang Yahudi.
3.
Perang Salib 1101 adalah sebuah perang salib dari 3 gerakan yang terpisah, diatur tahun 1100 dan 1101 setelah kesuksesan Perang Salib Pertama.
Perang Salib Pertama yang berhasil menyarankan panggilan bantuan dari Kerajaan Yerusalem yang baru dibentuk, dan Paus Paschal II mendorong adanya ekspedisi baru. Ia terutama mendorong yang telah melakukan janji perang salib namun tidak pernah berangkat, dan yang telah memutar balik selama perjalanan. Beberapa orang ini telah menerima caci maki di rumahnya dan menghadapi tekanan agar kembali ke timur; Adela dari Blois, istri Stephen, Raja Blois, yang telah melarikan diri dari Pertempuran Antiokhia tahun 1098, juga sangat kecewa dengan suaminya bahwa dia tidak akan mempersilahkannya tinggal di rumah.
4.
Perang Salib Kedua

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.
Perang Salib Kedua (berlangsung dari sekitar tahun 1145 hingga tahun 1149) adalah Perang Salib kedua yang dilancarkan dari Eropa, yang dilaksanakan karena jatuhnya Kerajaan Edessa pada tahun sebelumnya. Edessa adalah negara-negara Tentara Salib yang didirikan pertama kali selama Perang Salib Pertama (1095–1099), dan juga yang pertama jatuh. Perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III, dan merupakan Perang Salib pertama yang dipimpin oleh raja-raja Eropa, yaitu Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan dari bangsawan-bangsawan Eropa penting lainnya. Pasukan-pasukan kedua raja tersebut bergerak menyebrangi Eropa secara terpisah melewati Eropa dan agak terhalang oleh kaisar Bizantium, Manuel I Comnenus; setelah melewati teritori Bizantium ke dalam Anatolia, pasukan-pasukan kedua raja tersebut dapat ditaklukan oleh orang Seljuk. Louis, Conrad, dan sisa dari pasukannya berhasil mencapai Yerusalem dan melakukan serangan yang "keliru" ke Damaskus pada tahun 1148. Perang Salib di Timur gagal dan merupakan kemenangan besar bagi orang Muslim. Kegagalan ini menyebabkan jatuhnya Kota Yerusalem dan Perang Salib Ketiga pada akhir abad ke-12.
Serangan-serangan yang berhasil hanya terjadi di luar laut Tengah. Bangsa Flem, Frisia, Normandia, Inggris, Skotlandia, dan beberapa tentara salib Jerman, melakukan perjalanan menuju Tanah Suci dengan kapal. Mereka berhenti dan membantu bangsa Portugis merebut Lisboa tahun 1147. Beberapa di antara mereka, yang telah berangkat lebih awal, membantu merebut Santarém pada tahun yang sama. Mereka juga membantu menguasai Sintra, Almada, Palmela dan Setúbal, dan dipersilahkan untuk tinggal di tanah yang telah ditaklukan, tempat mereka mendapatkan keturunan. Sementara itu, di Eropa Timur, Perang Salib Utara dimulai dengan usaha untuk merubah orang-orang yang menganut paganisme menjadi beragama Kristen, dan mereka harus berjuang selama berabad-abad.
Latar belakang
Setelah terjadinya Perang Salib Pertama dan Perang Salib 1101, terdapat tiga negara tentara salib yang didirikan di timur: Kerajaan Yerusalem, Kerajaan Antiokhia, dan Kerajaan Edessa. Kerajaan Tripoli didirikan pada tahun 1109. Edessa adalah negara yang secara geografis terletak paling utara dari keempat negara ini, dan juga merupakan negara yang paling lemah dan memiliki populasi yang kecil; oleh sebab itu, daerah ini sering diserang oleh negara Muslim yang dikuasai oleh Ortoqid, Danishmend, dan Seljuk. Baldwin II dan Joscelin dari Courtenay ditangkap akibat kekalahan mereka dalam pertempuran Harran tahun 1104. Baldwin dan Joscelin ditangkap kedua kalinya pada tahun 1122, dan meskipun Edessa kembali pulih setelah pertempuran Azaz pada tahun 1125, Joscelin dibunuh dalam pertempuran pada tahun 1131. Penerusnya, Joscelin II, dipaksa untuk bersekutu dengan kekaisaran Bizantium, namun, pada tahun 1143, baik kaisar kekaisaran Bizantium, John II Comnenus dan raja Yerusalem Fulk dari Anjou, meninggal dunia. Joscelin juga bertengkar dengan Raja Tripoli dan Pangeran Antiokhia, yang menyebabkan Edessa tidak memiliki sekutu yang kuat.
Sementara itu, Zengi, Atabeg dari Mosul, merebut Aleppo pada tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di Suriah. Baik Zengi dan raja Baldwin II mengubah perhatian mereka ke arah Damaskus; Baldwin dapat ditaklukan di luar kota pada tahun 1129. Damaskus yang dikuasai oleh Dinasti Burid, nantinya bersekutu dengan raja Fulk ketika Zengi mengepung kota Damaskus pada tahun 1139 dan tahun 1140; aliansi dinegosiasikan oleh penulis kronik Usamah ibn Munqidh.
Pada akhir tahun 1144, Joscelin II bersekutu dengan Ortoqid dan menyerang Edessa dengan hampir seluruh pasukannya untuk membantu Ortoqid Kara Aslan melawan Aleppo. Zengi, yang ingin mengambil keuntungan dalam kematian Fulk pada tahun 1143, dengan cepat bergerak ke utara untuk mengepung Edessa, yang akhirnya jatuh ketangannya setelah 1 bulan pada tanggal 24 Desember 1144. Manasses dari Hierges, Philip dari Milly dan lainnya dikirim ke Yerusalem untuk membantu, tetapi mereka sudah terlambat. Joscelin II terus menguasai sisa Turbessel, tetapi sedikit demi sedikit sisa daerah tersebut direbut atau dijual kepada Bizantium. Zengi sendiri memuji Islam sebagai "pelindung kepercayaan" dan al-Malik al-Mansur, "raja yang berjaya". Ia tidak menyerang sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia, seperti yang telah ditakuti; peristiwa di Mosul memaksanya untuk pulang, dan ia sekali lagi mengamati Damaskus. Namun, ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 dan digantikan di Aleppo oleh anaknya, Nuruddin. Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tapi Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.
Berkut adalah Riwayatnya:
Perang Salib Pertama dilancarkan pada 1095 oleh Paus Urban II untuk mengambil kuasa kota suci Yerusalem dan tanah suci Kristen dari Muslim. Apa yang dimulai sebagai panggilan kecil untuk meminta bantuan dengan cepat berubah menjadi migrasi dan penaklukan keseluruhan wilayah di luar Eropa.

Pengepungan Antioch, dari lukisan miniatur abad pertengahan selama Perang Salib Pertama.
Baik ksatria dan orang awam dari banyak negara di Eropa Barat, dengan sedikit pimpinan terpusat, berjalan melalui tanah dan laut menuju Yerusalem dan menangkap kota tersebut pada Juli 1099, mendirikan Kerajaan Yerusalem atau kerajaan Latin di Yerusalem. Meskipun penguasaan ini hanya berakhir kurang dari dua ratus tahun, Perang salib merupakan titik balik penguasaan dunia Barat, dan satu-satunya yang berhasil meraih tujuannya.
Meskipun menjelang abad kesebelas sebagian besar Eropa memeluk agama Kristen secara formal — setiap anak dipermandikan, hierarki gereja telah ada untuk menempatkan setiap orang percaya di bawah bimbingan pastoral, pernikahan dilangsungkan di Gereja, dan orang yang sekarat menerima ritual gereja terakhir — namun Eropa tidak memperlihatkan diri sebagai Kerajaan Allah di dunia. Pertikaian selalu bermunculan di antara pangeran-pangeran Kristen, dan peperangan antara para bangsawan yang haus tanah membuat rakyat menderita.
Pada tahun 1088, seorang Perancis bernama Urbanus II menjadi Paus. Kepausannya itu ditandai dengan pertikaian raja Jerman, Henry IV — kelanjutan kebijakan pembaruan oleh Paus Gregorius VIII yang tidak menghasilkan apa-apa. Paus yang baru ini tidak ingin meneruskan pertikaian ini. Tetapi ia ingin menyatukan semua kerajaan Kristen. Ketika Kaisar Alexis dari Konstantinopel meminta bantuan Paus melawan orang-orang Muslim Turki, Urbanus melihat bahwa adanya musuh bersama ini akan membantu mencapai tujuannya.
Tidak masalah meskipun Paus telah mengucilkan patriark Konstantinopel, serta Katolik dan Kristen Ortodoks Timor tidak lagi merupakan satu gereja. Urbanus mencari jalan untuk menguasai Timur, sementara ia menemukan cara pengalihan bagi para pangeran Barat yang bertengkar terus.
Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan Konsili Clermont. Di sana ia menyampaikan kotbahnya yang menggerakkan: "Telah tersebar sebuah cerita mengerikan ... sebuah golongan terkutuk yang sama sekali diasingkan Allah ... telah menyerang tanah (negara) orang Kristen dan memerangi penduduk setempat dengan pedang, menjarah dan membakar." Ia berseru: "Pisahkanlah daerah itu dari tangan bangsa yang jahat itu dan jadikanlah sebagai milikmu."
"Deus vult! Deus vult! (Allah menghendakinya)," teriak para peserta. Ungkapan itu telah menjadi slogan perang pasukan Perang Salib. Ketika para utusan Paus melintasi Eropa, merekrut para ksatria untuk pergi ke Palestina, mereka mendapatkan respons antusias dari pejuang-pejuang Perancis dan Italia. Banyak di antaranya tersentak karena tujuan agamawi, tetapi tidak diragukan juga bahwa yang lain berangkat untuk keuntungan ekonomi. Ada juga yang ingin berpetualang merampas kembali tanah peziarahan di Palestina, yang telah jatuh ke tangan Muslim.
Mungkin, para pejuang tersebut merasa bahwa membunuh seorang musuh non-Kristen adalah kebajikan. Membabat orang-orang kafir yang telah merampas tanah suci orang Kristen tampaknya seperti tindakan melayani Allah.
Untuk mendorong tentara Perang Salib, Urbanus dan para paus yang mengikutinya menekankan "keuntungan" spiritual dari perang melawan orang-orang Muslim itu. Dari sebuah halaman Bible, Urbanus meyakinkan para pejuang itu bahwa dengan melakukan perbuatan ini, mereka akan langsung masuk surga, atau sekurang-kurangnya dapat memperpendek waktu di api penyucian.
Dalam perjalanannya menuju tanah suci, para tentara Perang Salib berhenti di Konstantinopel. Selama mereka ada di sana, hanya satu hal yang ditunjukkan: Persatuan antara Timur dan Barat masih mustahil. Sang kaisar melihat para prajurit yang berpakaian besi itu sebagai ancaman bagi takhtanya. Ketika para tentara Perang Salib mengetahui bahwa Alexis telah membuat perjanjian dengan orang-orang Turki, mereka merasakan bahwa "pengkhianat" ini telah menggagalkan bagian pertama misi mereka: menghalau orang-orang Turki dari Konstantinopel.
Dengan bekal dari sang kaisar, pasukan tersebut melanjutkan perjalanannya ke selatan dan timur, menduduki kota-kota Antiokhia dan Yerusalem. Banjir darah mengikuti kemenangan mereka di Kota Suci itu. Taktik para tentara Perang Salib ialah "tidak membawa tawanan". Seorang pengamat yang merestui tindakan tersebut menulis bahwa para prajurit "menunggang kuda mereka dalam darah yang tingginya mencapai tali kekang kuda".
Setelah mendirikan kerajaan Latin di Yerusalem, dan dengan mengangkat Godfrey dari Bouillon sebagai penguasanya, mereka berubah sikap, dari penyerangan ke pertahanan. Mereka mulai membangun benteng-benteng baru, yang hingga kini, sebagian darinya masih terlihat.
Pada tahun-tahun berikutnya, terbentuklah ordo-ordo baru yang bersifat setengah militer dan setengah keagamaan. Ordo paling terkenal adalah Ordo Bait Allah (bahasa Inggris: Knights Templars) dan Ordo Rumah Sakit (bahasa Inggris: Knights Hospitalers). Meskipun pada awalnya dibentuk untuk membantu para tentara Perang Salib, mereka menjadi organisasi militer yang tangguh dan berdiri sendiri.
Perang Salib pertama merupakan yang paling sukses. Meskipun agak dramatis dan bersemangat, berbagai upaya kemiliteran ini tidak menahan orang-orang Muslim secara efektif.
1. Perang Salib Rakyat.
Perang Salib Rakyat adalah bagian dari Perang Salib pertama dan berakhir kira-kira enam bulan dari April 1096 sampai Oktober. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Salib Populer.
2.Perang Salib Jerman.
Perang Salib Jerman 1096 adalah bagian dari Perang Salib pertama di mana tentara perang salib rakyat, kebanyakan dari Jerman, tidak menyerang Muslim namun orang Yahudi. Meskipun anti-semitisme telah ada di Eropa selama berabad-abad, ini merupakan pogrom massal pertama yang terorganisasi. Dalam beberapa kasus, otoritas dan pemimpin keagamaan berusaha melindungi orang Yahudi.
3.
Perang Salib 1101 adalah sebuah perang salib dari 3 gerakan yang terpisah, diatur tahun 1100 dan 1101 setelah kesuksesan Perang Salib Pertama.
Perang Salib Pertama yang berhasil menyarankan panggilan bantuan dari Kerajaan Yerusalem yang baru dibentuk, dan Paus Paschal II mendorong adanya ekspedisi baru. Ia terutama mendorong yang telah melakukan janji perang salib namun tidak pernah berangkat, dan yang telah memutar balik selama perjalanan. Beberapa orang ini telah menerima caci maki di rumahnya dan menghadapi tekanan agar kembali ke timur; Adela dari Blois, istri Stephen, Raja Blois, yang telah melarikan diri dari Pertempuran Antiokhia tahun 1098, juga sangat kecewa dengan suaminya bahwa dia tidak akan mempersilahkannya tinggal di rumah.
4.
Perang Salib Kedua
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.
Perang Salib Kedua (berlangsung dari sekitar tahun 1145 hingga tahun 1149) adalah Perang Salib kedua yang dilancarkan dari Eropa, yang dilaksanakan karena jatuhnya Kerajaan Edessa pada tahun sebelumnya. Edessa adalah negara-negara Tentara Salib yang didirikan pertama kali selama Perang Salib Pertama (1095–1099), dan juga yang pertama jatuh. Perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III, dan merupakan Perang Salib pertama yang dipimpin oleh raja-raja Eropa, yaitu Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan dari bangsawan-bangsawan Eropa penting lainnya. Pasukan-pasukan kedua raja tersebut bergerak menyebrangi Eropa secara terpisah melewati Eropa dan agak terhalang oleh kaisar Bizantium, Manuel I Comnenus; setelah melewati teritori Bizantium ke dalam Anatolia, pasukan-pasukan kedua raja tersebut dapat ditaklukan oleh orang Seljuk. Louis, Conrad, dan sisa dari pasukannya berhasil mencapai Yerusalem dan melakukan serangan yang "keliru" ke Damaskus pada tahun 1148. Perang Salib di Timur gagal dan merupakan kemenangan besar bagi orang Muslim. Kegagalan ini menyebabkan jatuhnya Kota Yerusalem dan Perang Salib Ketiga pada akhir abad ke-12.
Serangan-serangan yang berhasil hanya terjadi di luar laut Tengah. Bangsa Flem, Frisia, Normandia, Inggris, Skotlandia, dan beberapa tentara salib Jerman, melakukan perjalanan menuju Tanah Suci dengan kapal. Mereka berhenti dan membantu bangsa Portugis merebut Lisboa tahun 1147. Beberapa di antara mereka, yang telah berangkat lebih awal, membantu merebut Santarém pada tahun yang sama. Mereka juga membantu menguasai Sintra, Almada, Palmela dan Setúbal, dan dipersilahkan untuk tinggal di tanah yang telah ditaklukan, tempat mereka mendapatkan keturunan. Sementara itu, di Eropa Timur, Perang Salib Utara dimulai dengan usaha untuk merubah orang-orang yang menganut paganisme menjadi beragama Kristen, dan mereka harus berjuang selama berabad-abad.
Latar belakang
Setelah terjadinya Perang Salib Pertama dan Perang Salib 1101, terdapat tiga negara tentara salib yang didirikan di timur: Kerajaan Yerusalem, Kerajaan Antiokhia, dan Kerajaan Edessa. Kerajaan Tripoli didirikan pada tahun 1109. Edessa adalah negara yang secara geografis terletak paling utara dari keempat negara ini, dan juga merupakan negara yang paling lemah dan memiliki populasi yang kecil; oleh sebab itu, daerah ini sering diserang oleh negara Muslim yang dikuasai oleh Ortoqid, Danishmend, dan Seljuk. Baldwin II dan Joscelin dari Courtenay ditangkap akibat kekalahan mereka dalam pertempuran Harran tahun 1104. Baldwin dan Joscelin ditangkap kedua kalinya pada tahun 1122, dan meskipun Edessa kembali pulih setelah pertempuran Azaz pada tahun 1125, Joscelin dibunuh dalam pertempuran pada tahun 1131. Penerusnya, Joscelin II, dipaksa untuk bersekutu dengan kekaisaran Bizantium, namun, pada tahun 1143, baik kaisar kekaisaran Bizantium, John II Comnenus dan raja Yerusalem Fulk dari Anjou, meninggal dunia. Joscelin juga bertengkar dengan Raja Tripoli dan Pangeran Antiokhia, yang menyebabkan Edessa tidak memiliki sekutu yang kuat.
Sementara itu, Zengi, Atabeg dari Mosul, merebut Aleppo pada tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di Suriah. Baik Zengi dan raja Baldwin II mengubah perhatian mereka ke arah Damaskus; Baldwin dapat ditaklukan di luar kota pada tahun 1129. Damaskus yang dikuasai oleh Dinasti Burid, nantinya bersekutu dengan raja Fulk ketika Zengi mengepung kota Damaskus pada tahun 1139 dan tahun 1140; aliansi dinegosiasikan oleh penulis kronik Usamah ibn Munqidh.
Pada akhir tahun 1144, Joscelin II bersekutu dengan Ortoqid dan menyerang Edessa dengan hampir seluruh pasukannya untuk membantu Ortoqid Kara Aslan melawan Aleppo. Zengi, yang ingin mengambil keuntungan dalam kematian Fulk pada tahun 1143, dengan cepat bergerak ke utara untuk mengepung Edessa, yang akhirnya jatuh ketangannya setelah 1 bulan pada tanggal 24 Desember 1144. Manasses dari Hierges, Philip dari Milly dan lainnya dikirim ke Yerusalem untuk membantu, tetapi mereka sudah terlambat. Joscelin II terus menguasai sisa Turbessel, tetapi sedikit demi sedikit sisa daerah tersebut direbut atau dijual kepada Bizantium. Zengi sendiri memuji Islam sebagai "pelindung kepercayaan" dan al-Malik al-Mansur, "raja yang berjaya". Ia tidak menyerang sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia, seperti yang telah ditakuti; peristiwa di Mosul memaksanya untuk pulang, dan ia sekali lagi mengamati Damaskus. Namun, ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 dan digantikan di Aleppo oleh anaknya, Nuruddin. Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tapi Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.
sejarah agama katolik
. Orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang Maluku, Kolano (kepala kampung) Mamuya (sekarang di Maluku Utara) yang dibaptis bersama seluruh warga kampungnya pada tahun 1534 setelah menerima pemberitaan Injil dari Gonzalo Veloso, seorang saudagar Portugis. Ketika itu para pelaut Portugis baru saja menemukan kepulauan rempah-rempah itu dan bersamaan dengan para pedagang dan serdadu-serdadu, para imam Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. Salah satu pendatang di Indonesia itu adalah Santo Fransiskus Xaverius, yang pada tahun 1546 sampai 1547 datang mengunjungi pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Ia juga membaptis beberapa ribu penduduk setempat.
sejarh edukasi
| Sekilas Sejarah Pendidikan di Indonesia | | | |
| Jumat, 09 Maret 2007 | |
| Sekolah pendidikan dasar telah diperkenalkan oleh Belanda di Indonesia. Sekolah yang tadinya hanya untuk kalangan keturunan belanda, dengan etische politiek (kepotangan budi) di negara jajahan belanda (1870) mulai membuka sekolahan bagi kaum bumi putera (SR). Hal tersebut nampaknya juga akibat pengaruh faham humanisme dan kelahiran baru yang melanda negeri Belanda. Program utamannya saat itu mungkin hanya untuk kepentingan Belanda juga (untuk meningkatkan produktivitas ditanah jajahannya). Untuk Perguruan tinggi dimulai dengan berdirinya sekolah-sekolah kejuruan. Misal STOVIA(1902) yang kemudia berubah jadi NIAS(1913) dan GHS adalah cikal bakal dari fakultas kedokterannya UI. Lalu juga Rechts School (1922) dan Rechthoogen School (1924) kemudian melebur jadi fakultas hukumnya UI. Juga disusul beberapa fakultas lainya. Di Bandung dimana bung Karno sekolah juga berasal dari sekolah teknik THS (1920) dan di Bogor dibuat juga sekolah perkebunan (1941) adalah cikal bakal IPB sekarang. Bila kemudian didirikan UI (1950) atau UGM (1945) adalah leburan dari yang sudah ada dan kemudian ditambahkan fakultas lainnya. Perlu dicatat pula universitas tua lainnya seperti ITB (1959), IPB (1963), Unair (1963), dan universitas swasta tertua kita adalah UII (1948). Barangkali bisa dimaklumi bahwa pendidikan di Indonesia masih sangat muda dibanding pendidikannya Plato. Walaupun sebenarnya sejak jamannya pangeran Aji Saka (abad 3) telah diperkenalkan huruf jawa dengan mencontoh huruf di India selatan, jadi pemerintahan Jawa Dwipa sudah mengenal pendidikan. Demikian pula abad 5 pendeta Budha memperkenalkan ajarannya (tentunya mengandung unsur pendidikan. Berdirinya Borobudur boleh di anggap sebagai parameter tingginya ilmu arsitektur (diabad 8) oleh Raja Sailendra Samaratungga. Dicatat pula Candi Prambanan (Hindu) yang elok itu dibangun di abad 9 jamannya raja Sanjaya. Raja agung Airlangga (1019) boleh dianggap raja paling toleran dan melindungi umat berbeda agama (hal ini tentunya tidak terjadi sebelumnya). Tidak kurang di Indonesia juga ada ahli filosuf atau mungkin sebagai nabinya wong jowo yaitu Raja Joyoboyo (1157), siapa yang tak kenal dengan primbonnya Joyo boyo. Namun sayang selama perjalanan sejarah bangsa Indonesia selalu disertai dengan perang saudara (jauh sebelum Belanda datang, sudah cakar-cakaran, jangan hanya Belanda yang disalahkan sebagai provokator dengan politik adu kambinya, ternyata bakat ini belum hilang sampai sekarang). Bahkan Patih Gadjah Mada yang dianggap pemersatupun (dengan sumpahnya yang sakti) adalah hanya untuk penguasaan dan menunjukkan kehebatan Majapahit. Tentu ini juga berpengaruh pada pendidikan secara umum, dan sebaliknya bisa jadi pendidikan ikut mempengaruhinya. Menengok perjalanan sejarah bangsa Indonesia perlu dibahas tersendiri. Gambaran sejarah pendidikan di Indonesia saat ini bisa dialami bersama. Dari gambaran diatas ternyata masalah pendidikan bukan sekedar tergantung pada teory dan ilmu pendidikan itu saja, tapi juga iklim social budaya dan politik ikut berperan. Namun bukan alasan untuk tidak memperbaharui kehidupan melalui pembaharuan konsep pendidikan itu sendiri. Jadi reformasi pendidikan adalah mutlak perlu dilakukan terus menerus sesuai perubahan pemahaman umat akan kehidupan itu sendiri. Dimana Peter Drucker melihat pergeseran kebutuhan manusia, dari ekonomi yang berbasiskan benda tak bergerak dan jasa menuju ekonomi berbasiskan ilmu pengetahuan, perlu di renungkan. Lebih jauh Drucker mengemukakan bahwa tahapan agraris, industri dan kini informasi adalah tidak lama lagi tergeser pada era inovasi. Apa itu inovasi dan persyaratannya adalah bahan pekerjaan rumah bersama. Bila generasi kita saat ini setress gara-gara tidak tahu bahasa jawanya anak kerbau, atau hafalan lainya. Jangan disalahkan bila kemudian hari negara Indonesia menjadi negara terbelakang yang menunggu petunjuk, menunggu pemerintahannya waras, menunggu dan menunggu. Namun untung ada film anak-anak pokemon, digimon, tweenies, bob builder dan sejenisnya yang barangkali jadi hiburan anak sekaligus menjadi sarana berfantasi sambil berinovasi, dari pada ngerjakan PR paket pendidikan yang sarat dengan indokrinasi hukum-hukum matematika dan hukum lainnya yang harus dipatuhi tanpa syarat. |
Langganan:
Postingan (Atom)


