Minggu, 14 November 2010

sejarah santon yohanes

St. Yohanes Bosco

Yesus & Bunda Maria Memanggilnya Dalam Suatu Mimpi

St. Yohanes Bosco

Yohanes Bosco adalah santo yang paling keren bagi kaum muda. Ia membaktikan seluruh hidupnya bagi para remaja. Yohanes Bosco seorang yang peramah, suka bercanda, ahli sulap dan akrobat. Ia sungguh amat menyenangkan, kamu pasti akan tertawa terpingkal-pingkal jika bersamanya!

MASA KECIL
Yohanes Bosco dilahirkan pada tanggal 16 Agustus 1815, di Becchi, sebuah dusun kecil di Castelnuovo d'Asti (sekarang namanya Castelnuovo Don Bosco), Italia. Ayahnya, Francesco, seorang petani yang miskin. Francesco mempunyai tiga orang putera: Antonio (dari isteri pertamanya yang telah meninggal dunia), Yusuf dan Yohanes. Francesco meninggal dunia saat Yohanes baru berusia dua tahun.

Ibunya, Margarita, dengan segala daya upaya dan kerja keras berusaha menghidupi keluarganya. Namun demikian kerja keras dan kemiskinan tidak menghalangi Margarita untuk senantiasa menceritakan kepada anak-anaknya segala kebaikan Tuhan: siang dan malam, bunga-bunga dan bintang-bintang, “Oh, betapa indahnya Tuhan menjadikan segala sesuatu untuk kita!”, kata mama Margarita. Diajarkannya kepada Yohanes kecil bagaimana mengolah tanah dan bagaimana menemukan Tuhan yang ada di surga yang indah melalui panen yang berlimpah dan melalui hujan yang menyirami tumbuh-tumbuhan. Di gereja, Mama Margarita berdoa dengan khusuk, ia mengajari anak-anaknya untuk melakukan hal yang sama. Bagi Yohanes, berdoa berarti berbicara kepada Tuhan dengan kaki berlutut di atas lantai dapur, berdoa juga berarti berpikir tentang-Nya ketika ia sedang duduk di atas rerumputan sambil menatap ke arah surga. Dari ibunya, Yohanes belajar melihat Tuhan dalam wajah sesama, yaitu mereka yang miskin, mereka yang sengsara, mereka yang datang mengetuk rumah mereka sepanjang musim dingin, dan yang kepada siapa Mama Margarita memberikan tumpangan, menyuguhkan sup hangat serta membagikan makanan dari kemiskinan mereka.

MIMPI YANG MENAKJUBKAN
Yohanes Bosco dan Tamu AgungPada usia sembilan tahun untuk pertama kalinya Yohanes mendapat mimpi yang amat menakjubkan yang menggambarkan keseluruhan hidupnya kelak. Dalam mimpinya Yohanes sedang berada di lapangan yang luas. Ia melihat banyak sekali anak di sana, ada yang tertawa, bermain dan ada pula yang bersumpah serapah. Yohanes tidak suka anak-anak itu menghina Tuhan. Ia segera berlari untuk menghentikan mereka sambil berteriak dan mengepalkan tinjunya.

Tampaklah “Seorang yang Agung” berpakaian jubah putih dan wajah-Nya bersinar. Ia memanggil Yohanes dengan namanya, memintanya agar tenang serta menasehatinya:

“Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kelemahlembutan serta belas kasih, kamu akan menjadikan mereka semua teman-temanmu. Beritahukanlah kepada mereka keburukan dosa dan ganjaran kebajikan.”

“Tidak tahukah Engkau,” bisik Yohanes kecil, “bahwa hal itu tidak mungkin?”

“Apa yang tampaknya tidak mungkin bagimu, kamu akan menjadikannya mungkin jika saja kamu melakukannya dengan ketulusan hati dan pengetahuan.”

“Di mana dan bagaimana aku memperoleh pengetahuan?”

Aku akan memberimu seorang Bunda, dengan bimbingan darinya saja seseorang akan menjadi bijaksana, tanpa bimbingannya semua pengetahuan tidak ada gunanya.”

“Tetapi siapakah Engkau yang berbicara seperti itu?”

“Aku adalah Putera dari Surga. Ibumu telah mengajarkan kepadamu untuk menghormati-Ku tiga kali sehari.”

“Ibuku melarangku untuk berbicara dengan seseorang yang tidak aku kenal. Katakanlah siapa nama-Mu.”

“Tanyakan nama-Ku kepada ibu-Ku.”

Kemudian, tampaklah seorang wanita yang amat anggun. Ia mengenakan gaun panjang yang berkilau-kilauan, seolah-olah jubahnya itu terbuat dari bintang-bintang yang paling cemerlang. Wanita itu memberi isyarat kepada Yohanes untuk datang mendekat kepadanya. Dengan lembut diraihnya tangan Yohanes, katanya, "Lihatlah."

Gerombolan anak-anak lenyap. Yang tampak oleh Yohanes sekarang ialah sekawanan binatang buas: kambing liar, harimau, serigala, beruang….

“Inilah tempat di mana kamu harus bekerja. Jadikan dirimu rendah hati, kuat dan penuh semangat. Apa yang kamu lihat terjadi pada binatang-binatang buas ini, kamu harus melakukannya kepada anak-anakku.”

Yohanes melihat bahwa binatang-binatang buas itu kini telah berubah menjadi sekumpulan besar anak domba yang jinak, berkerumun dan berdesak-desakan di sekitar Kedua Tamu Agungnya. Melihat itu Yohanes menangis dan minta penjelasan dari Si Wanita karena ia sama sekali tidak mengerti apa arti semua itu. Wanita itu membelainya dan berkata:

“Kamu akan mengerti semuanya jika waktunya telah tiba.”

Yohanes terbangun dan ia tidak dapat tidur kembali.Tahun-tahun mendatang dalam hidupnya telah dinyatakan dalam mimpi itu. Mama Margarita dan Yohanes percaya bahwa mimpi itu adalah gambaran jalan hidup Yohanes kelak.


AHLI SULAP DAN AKROBAT
Sejak itu Yohanes senantiasa berusaha berbuat baik kepada teman-temannya. Ketika terompet pemain sirkus berbunyi untuk mengumumkan adanya pesta lokal di sebuah bukit di dekat situ, Yohanes pergi dengan penuh semangat dan duduk di baris terdepan. Rombongan sirkus itu menampilkan badut, sulap, permainan-permainan dan akrobat. Yohanes memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan mempelajari semua atraksi yang ditampilkan.
Sepulangnya dari pertunjukan sirkus, Yohanes mulai meniru atraksi-atraksi yang ditampilkan. Ia gagal, tergelincir, jatuh dan badannya memar, tetapi tekadnya kuat. Ia pantang menyerah, sebab pikirnya, "Jika mereka dapat melakukannya, mengapa aku tidak?" Wah, pastilah malaikat pelindungnya menjadi sibuk sekali mengawasi dia. Yohanes terus berlatih hingga suatu hari Minggu sore, ia mempertunjukkan kebolehannya di hadapan anak-anak tetangga. Ia memperagakan keseimbangan tubuh dengan wajan dan panci di ujung hidungnya. Kemudian ia melompat ke atas tali yang direntangkan di antara dua pohon dan berjalan di atasnya diiringi tepuk tangan penonton. Sebelum pertunjukan yang hebat itu diakhiri, Yohanes mengulang khotbah yang ia dengar dalam Misa pagi kepada teman-temannya itu, dan mengajak mereka semua berdoa.
Kabar mengenai pertunjukan yang diselenggarakan Yohanes tersiar hingga ke desa-desa tetangga. Karena pada masa itu jarang sekali ada pertunjukan semacam, segera saja anak-anak yang bermil-mil jauhnya pun datang untuk menyaksikan pertunjukannya. Jumlahnya hingga seratus anak lebih.

“Kita akan memulainya dengan berdoa Rosaio, Peristiwa Mulia, untuk menghormati hari Minggu.”

Anak-anak itu mengeluh, tetapi mereka menurut. Setelah ia mengajak anak-anak menyanyikan satu kidung bagi Bunda Maria, Yohanes berdiri di atas kursi dan mulai menjelaskan isi Kitab Suci seperti yang didengarnya pada Misa pagi. Jika seorang anak menolak untuk mendengarkan khotbahnya atau menolak berdoa, Yohanes akan berkata: “Baiklah. Aku tidak akan mengadakan pertunjukan hari ini. Jika kalian tidak berdoa, bisa saja aku terjatuh dan leherku patah.”

Permainan dan Sabda Tuhan mulai mengubah perilaku teman-temannya. Yohanes kecil mulai menyadari bahwa agar dapat berbuat baik untuk sedemikian banyak anak, ia perlu belajar dan menjadi seorang imam. Imam Castelnuovo melihat perkembangan iman Yohanes yang luar biasa, hingga ia mengijinkan Yohanes menrima komuni dua tahun lebih awal dari usia yang ditentukan Gereja.

PERGI DARI RUMAH
Seorang misionaris, Don Calosso ('Don' dalam bahasa Italia berarti Romo), datang ke desa Buttigliera untuk memberikan pelajaran agama. Yohanes memutuskan untuk mengikuti semua pelajaran agama yang diberikan olehnya, baik pagi maupun sore. Itu berarti ia harus berjalan kaki sejauh 10 (16 kilometer) mil sehari. Antonio menentang keras keinginan Yohanes untuk belajar. Menurutnya sudah tiba waktunya bagi Yohanes untuk bekerja. Oleh karena itu diambil keputusan: pagi hari Yohanes belajar di pastoran dengan Don Calosso, sesudahnya ia harus bekerja di sawah. Yohanes belajar dengan tekun. Ia membawa bukunya ke sawah dan belajar hingga larut malam. Hal itu sangat menjengkelkan Antonio. Antonio, yang sekarang sudah menjadi kepala keluarga, membuang semua buku-buku Yohanes dan mencambuki adik tirinya itu dengan ikat pinggangnya.

Demi keselamatan Yohanes, Mama Margarrita membuat suatu keputusan yang amat menyedihkan hatinya sendiri, ia menyuruh Johanes pergi.

PERTANIAN MOGLIA

Di suatu pagi yang dingin di bulan Februari 1827, Yohanes pergi menginggalkan rumah dan berkelana untuk mencari pekerjaan. Usianya baru 12 tahun. Sungguh sulit mencari pekerjaan di musim dingin, hanya pada musim panas saja pertanian membutuhkan banyak tenaga kerja. Setiap kali Yohanes selalu di tolak. Hingga tibalah ia di rumah Tn. Luigi Moglia, seorang petani kaya, dekat Moncucco.
“Pulanglah nak,” kata petani itu. “Datanglah kembali pada Hari Raya Kabar Sukacita”
“Berbelas kasihlah, ya Tuan,” Yohanes memohon, “Tuan tidak perlu membayarku satu sen pun, aku tidak minta apa-apa….ijinkanlah aku tinggal!”

“Tidak mungkin. Pergilah!”

“Tidak, Tuan. Aku akan duduk di lantai sini dan tidak akan pergi.”

Yohanes merasa amat perih hatinya dan menangis. Tergerak oleh belas kasihan, Yohanes diterima bekerja sebagai penggembala sapi. Yohanes amat gembira dan bekerja sebaik yang ia mampu. Ia menggembalakan sapi-sapinya di padang rumput, memerah susu, menumpuk jerami di palungan, dan membajak sawah. “Mataku terbuka lebar-lebar jika aku sedang bekerja, dan aku tidak berhenti sampai tiba saatnya untuk tidur,” kenang Yohanes. Tanpa ibu dan saudara, tanpa teman di sampingnya, Yohanes memusatkan diri sepenuhnya hanya kepada Tuhan Allah yang amat dikasihinya.

Setiap hari Minggu Yohanes pergi ke gereja untuk mengikuti Misa. Dengan ijin dari Don Cottino, imam paroki setempat, Yohanes mengumpulkan anak-anak untuk bermain dan berdoa seperti yang dulu ia lakukan di desanya.

SEKOLAH, SEMINARI & LUIGI COMOLLO

Tiga tahun kemudian Antonio pindah ke dusun lain. Yohanes pulang kembali ke rumah dan melanjutkan sekolahnya, pertama-tama di Castelnuovo dan kemudian di Chieri. Guna membiayai pendidikannya, selain menerima sumbangan dari orang-orang yang bersimpati padanya, Yohanes Bosco juga bekerja. Segala macam pekerjaan dilakukannya: penjahit, tukang roti, tukang sepatu, tukang kayu, dan segala macam pekerjaan yang dapat dikerjakannya.

Sebagai pelajar, Yohanes seorang remaja yang pandai dan cerdas. Ia adalah murid terbaik di antara semua murid sekolahnya. Ia mengumpulkan teman-temannya dan membentuk suatu kelompok religius yang diberinya nama Kelompok Sukacita. Yohanes menjadi penggerak utama bagi teman-temannya. Kepribadiannya terbuka, dinamis, vitalitas hidupnya tinggi, kadang ia kurang sabar dan terbawa emosi. Sekali waktu ia menekankan perbuatan baik, kebenaran serta keadilan bukan dengan kelemahlembutan, tetapi justru dengan tinjunya.

Pada suatu hari seorang guru datang terlambat ke kelas. Murid-murid menjadi ribut, saling melempar buku dan kapur. Hanya seorang anak saja yang duduk dengan tenang di bangkunya. Luigi Comollo seorang anak yang tenang dan pendiam hingga Yohanes tidak pernah memperhatikannya.
“Ayo Luigi,” teriak salah seorang anak yang paling nakal.

“Tidak, aku tidak mau bermain, aku sedang mengerjakan sesuatu.”

“Datang, kataku!”

“Tidak.”

“Datang, atau kupukul kau.”

“Pukullah jika kamu mau.”

Dengan jengkel anak nakal itu datang dan mendaratkan dua tinjunya ke wajah Luigi. Luigi tidak membalasnya. Dengan suara yang amat tenang ia berkata,

“Puaskah kamu sekarang? Aku memaafkan kamu. Sekarang biarkan aku sendiri.”

Penyerang itu mundur dengan perasaan malu. Sikap Luigi yang amat tenang dan lembut itu mengesankan Yohanes. Yohanes dan Luigi ibarat api dan air, seperti singa dan anak domba. Yohanes mengagumi Luigi dan darinya ia belajar untuk menguasai diri dan meredam kemarahannya. Sejak itu mereka bersahabat karib.

Setalah tamat sekolahnya, pada usia dua puluh tahun, Yohanes Bosco mengambil keputusan yang amat penting dalam hidupnya: ia masuk Seminari Chieri. Mama Margarita menegaskan kepadanya untuk selalu setia kepada panggilannya, jika ia ragu-ragu lebih baik diurungkannya saja niatnya itu daripada menjadi seorang imam yang lalai dan acuh. Nasehat ibunya itu diingat dan dihormati oleh Yohanes sepanjang hidupnya.

Tak disangkanya, Luigi Comollo, menyusulnya beberapa bulan kemudian. Kepadanyalah, Yohanes mengutarakan semua cita-cita dan rencananya. Luigi sendiri tidak menyusun banyak rencana seperti Yohanes, ia merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir. Tak dikatakannya perasaannya itu kepada sahabatnya, tetapi mereka berdua telah bersepakat: siapa pun yang terlebih dahulu meninggal dunia akan memohon kepada Tuhan untuk memberi ijin memberitahukan kepada sahabatnya yang masih di dunia bahwa ia telah masuk dalam kebahagiaan abadi.

Tahun berikutnya, pada tanggal 2 April 1839, hari Kamis sesudah Paskah, Luigi meninggal dunia karena demam. Yohanes amat berduka karena bagian dari dirinya yang berharga telah pergi. Malam sesudah pemakaman dua puluh orang yang tidur dalam satu kamar asrama dengan Yohanes terbangun karena suara yang aneh. Seolah-olah sebuah kereta kuda, atau kereta api, sedang melaju di lorong, kereta itu menerjang dan menghantam bagaikan gemuruh artileri, menyebabkan lantai dan langit-langit berguncang, pintu kamar terbuka lebar-lebar dan masuklah ke dalam ruangan mereka suatu sinar yang tiba-tiba bersinar amat terang. Dan, dalam keheningan, banyak dari mereka yang mendengar suatu suara yang lembut menyanyi dengan gembira. Tetapi hanya seorang saja yang mendengar perkataan ini:

“Bosco, aku selamat.”

Sinar menghilang dan pergi dengan cara yang sama seperti datangnya. Kemudian segala sesuatunya berakhir. Yohanes dipenuhi dengan sukacita dan syukur.


"Menghindarlah dari teman-teman yang jahat sama seperti kamu menghindar dari gigitan ular beracun. Jika teman-temanmu baik, saya yakin bahwa suatu hari kelak kamu akan bersukacita bersama para kudus di Surga; tetapi jika kumpulanmu jahat, kamu sendiri akan menjadi jahat pula, dan kamu berada dalam bahaya kehilangan jiwamu." ~ St. Yohanes Bosco
meer as 'n jaar gelede

sejarah berdirinya gereja katolik pecinta damai

SEKILAS SEJARAH BERDIRINYA GEREJA KATOLIK RATU PENCINTA DAMAI (PAROKI RPD POGOT)

CIKAL-BAKAL PAROKI RPD POGOT
Sekitar tahun 1963-1964 daerah Pogot dan sekitarnya sebagian besar masih berupa rawa, padang ilalang, dan persawahan. Rumah-rumah penduduk masih sedikit sekali demikian juga sarana dan prasarana pendukungnya. Namun demikian daerah Pogot dan sekitarnya sudah ada beberapa keluarga yang memeluk agama Katolik. Merekalah yang merupakan “Cikal Bakal” Gereja Pogot.

Dari waktu-kewaktu umat Katolik di daerah Pogot dan sekitarnya semakin banyak. Melihat perkembangan semacam itu, salah satu tokoh umat setempat yaitu Bapak A.Y. Medjik (Granting Baru IV/16) merelakan rumahnya untuk tempat berkumpulnya umat Katolik, sekaligus sebagai tempat pelajaran agama, dan juga sebagai kapel. Setiap hari Minggu sore diadakan misa yang dilayani oleh para romo dari Paroki Kepanjen a.l. :
Rm. A. Siswadi, CM, Rm. L. Tjahyo Kusumo. Ditempat ini juga diadakan baptisan baru.

Pada saat itu (1972) Paroki Kepanjen terbagi menjadi 4 wilayah. Daerah Pogot dan sekitarnya masuk Wilayah IV, yang saat itu Ketua Wilayahnya adalah Bpk. Y. Hidayat Tanuhandaru. Selanjutnya Wilayah IV dibagi menjadi 4 kring (lingkungan) yaitu : Lingkungan 4K, 4L, 4M, 4N. Daerah Pogot dan sekitarnya masuk Wilayah IVN.

Atas perjuangan tokoh-tokoh umat setempat, perkembangan umat Pogot cukup pesat. Persoalan yang muncul ialah sulitnya untuk mengikuti misa, karena tempat mereka tersebar didaerah yang luas. Menyikapi masalah tersebut, beberapa tokoh umat (Bpk. H.Y. Saliman, Bpk M.S. Poerwanto dan Bpk. A.Y. Medjik) memberitahukan kepada Keuskupan Surabaya bahwa umat Katolik di daerah Pogot dan sekitarnya sudah cukup banyak dan menanyakan apa mungkin di Wilayah IV didirikan tempat ibadah (gedung gereja). Romo Vikjen (Rm. A. Dibyokaryono, Pr.) menyarankan agar menghadap Romo Kepala Paroki Kepanjen. Akhirnya ketiga tokoh umat tadi menghadap Romo Paroki Kepanjen untuk menyampaikan masalahnya. Romo Paroki Kepanjen (Rm. A. Siswadi, CM sebagai Romo Wilayah IV) langsung mendukungnya.

PROSES BERDIRINYA GEREJA DAN PERIJINAN
Sejalan dengan perkembangan umat maka para tokoh umat beserta Ketua-ketua Lingkungan pada th 1975 mengusulkan kepada Paroki Kepanjen (Rm. Heuvelmans, CM) agar didaerah Pogot (sekitarnya) didirikan gereja. Paroki Kepanjen menyetujui dan menyuruh mencari lokasi yang tepat. Ada beberapa lokasi yang ditawarkan, namun yang dipilih adalah Jl. Pogot Baru No77 (wilayah Kelurahan Tanah Kalikedinding).
Tgl.10 April 1978, Walikota Kepala Daerah Tk. II Surabaya dalam rekomendasi No. 35/Prins/78, menyatakan :
Setelah memperhatikan dan mempertimbangkan segala sesuatunya; memberikan persetujuan prinsip lokasi untuk mendirikan Gereja Katolik, Pogot di Desa Tanah Kalikedinding, Kec. Sukolilo, Surabaya, pada areal seluas + 1.920 m2.
Tgl 7 Mei 1980, Walikota Kepala Daerah Tk. II Surabaya dalam Surat Keputusan No. 1283/B/80 menyatakan :
Setelah membaca, mengingat dan mempertimbangkan, memutuskan :
Memberikan ijin :
Mendirikan sebuah bangunan dari batu sebagian bertingkat dua.
Mengerjakan pagar dari batu/besi di Pogot Baru, Kec. Sukolilo Surabaya.
Menetapkan uang sempadan dan uang ijin bangunan.
Karena lokasi sudah ditetapkan, semua rekomendasi dan perijinan sudah diterima, maka dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Gereja. Selanjutnya pembangunan gedung gereja dimulai.

SUMBER DANA
Dana diperoleh dari kerjasama antara Paroki Kepanjen dan Paroki Kristus Raja serta Kongregasi Misi Indonesia.

PEMBERKATAN GEDUNG GEREJA
Pada tahun 1979 pembangunan gedung gereja sudah jadi meski belum sempurna. Rm. L. Tjahyo Kusumo, CM memberkati gedung gereja ini. Sejak saat itulah gedung gereja ini menjadi pusat kegiatan dan palayanan sakramen. Umat yang semula merayakan Ekaristi dibeberapa tempat mulai berkumpul dan merayakan Ekaristi di gedung gereja baru ini. Akhirnya kegiatan keagamaan di rumah Bpk. A.Y. Medjik dihentikan.

Pada awal tahun 1981 pembangunan gedung gereja sudah selesai sepenuhnya. Pada tanggal 25 Januari 1981 Mgr. Yohanes Klooster, CM (Uskup Surabaya) berkenan memberkati gedung gereja dengan nama pelindung “Ratu Pencinta Damai”,yang menurut penanggalan liturgi gereja dirayakan setiap tanggal 9 Juli. Mengambil nama pelindung “Ratu Pencinta Damai” ini diharapkan umat Pogot mampu meneladan Maria sebagai pribadi yang mencintai perdamaian dan mampu menjadi Gereja yang membawa damai kepada masyarakat sekitar dan sesama.

BENIH TERUS BERKEMBANG
Berdirinya gedung gereja merupakan titik perubahan dari Gereja diaspora yang terpencar-pencar menjadi sebuah Gereja yang satu, yang mempersatukan bangunan Tubuh Kristus yang kecil-kecil menjadi sebuah Tubuh Kristus yang lebih besar. Disisi lain, jumlah umat terus berkembang seiring dengan pertambahan penduduk dan banyaknya orang yang menjadi percaya pada Kristus.
Benih iman juga semakin berkembang dengan dipanggilnya beberapa putra-putri Gereja RPD masuk Seminari dan Biarawati untuk bekerja di ladang Tuhan.Mereka yang terpanggil dan terpilih itu adalah :
1.Romo Paulus Eko Nurbandrio CM
2.Romo Gabriel Dwi Herry Purwanto Pr.
3.Romo Frensius Supriyadi CM
4.Romo Robby Setiawan O’Carm
5.Suster Stefani S.Sp.S
6.Suster Fransiska S.Sp.S

Perkembangan ini juga berpengaruh pada status keadministrasian Gereja.Pada awalnya umat Pogot termasuk dalam teritori Paroki Kristus Raja namun pelayanannya ikut Paroki Kelahiran St. Perawan Maria (Kepanjen).Mengingat perkembangan jumlah umat semakin banyak maka Paroki Kepanjen dan Paroki Kristus Raja bekerja sama mempersiapkan daerah Pogot dan sekitarnya menjadi wilayah tersendiri.

Dalam proses selanjutnya pada tahun 1980 terjadi pengembalian Wilayah Pogot dari Paroki Kelahiran St. Perawan Maria (Kepanjen) ke Paroki Kristus Raja (Ketabang). Rm. Everard Van Mansvoort, CM sebagai Romo Paroki Kristus Raja menjadikan Wilayah Pogot yang memiliki kring (lingkungan) IV K, IV L, IV M, IV N menjadi Wilayah D Paroki Kristus Raja dan selanjutnya memecahnya menjadi 6 kring (lingkungan) dengan koordinator Bpk. R.D. Mardjono.

Enam lingkungan tersebut adalah :

Lingk Meliputi daerah Ketua Lingkungan
I.D Karang Tembok, Endrosono dan Wonokusumo Lor Bpk. A. Sunaryo
II.D Mrutu-Kalianyar dan Bulak Banteng Lor Bpk. A. Widjoko
III.D Tenggumung Baru Selatan, Tenggumung Wetan, Tenggumung Karya, Wonokusumo Kidul, Kedung Mangu, dan Sidotopo Wetan Bpk. Y. Sutrasno
IV.D Granting, Granting Baru, Sidotopo Luar, Platuk dan Pogot Bpk. AL Tubandi
V.D Sidoyoso, Granting Baru dan Kenjeran Bpk. AF Suryadifa
VI.D Kapas Lor, Kapas Baru, Kapas Madya, Tuwowo, Pogot Lama, Tanah Merah, Gading Madya, Lebak Jaya, Kedung Cowek, Kedinding, Dukuh Bulak Banteng Timur, dan Tambak Wedi Bpk. L. Hadi Susanto

Namun nama Wilayah D ini tidak berlangsung lama. Pada tanggal 9 September 1984 Rapat Dewan Pleno Kristus Raja memutuskan pergantian nama Wilayah D menjadi Wilayah C dengan Ketua Wilayah Bpk. M.S. Purwanto. Dengan demikian beliaulah Ketua Wilayah yang pertama sebab sebelumnya hanya bersifat koordinator lingkungan. Berikutnya terjadi beberapa kali pergantian Ketua Wilayah (Bpk. Ig. Mardiana, T.S. Handoko), dan Rm. B. Martokusumo, CM sebagai Romo Wilayah. Selanjutnya Wilayah C menjadi Stasi Ratu Pencinta Damai Pogot. Ketua Stasi pertama ialah Bpk. Y. Samsudi. Tahun 2000 Stasi RPD dipecah menjadi 4 wilayah (St. Anna, St. Bernadetta, St. Caesilia, St. Dorothea) dan tiap wilayah membawahi 4 lingkungan. Jadi dalam perkembangannya Stasi RPD memiliki 16 lingkungan yang nama lingkungannya mengikuti nama wilayahnya.

STASI RPD MENJADI PAROKI RPD
Seiring dengan perkembangan umat yang tersebar di 4 wilayah/16 lingkungan, Pengurus dewan tergerak untuk memikirkan secara lebih serius tentang masa depan Gereja Pogot. Untuk itu Pengurus Dewan berulang kali mengadakan pertemuan untuk membahas hal tersebut. Akhirnya disepakati untuk mengusulkan Stasi Pogot menjadi Paroki Pogot kepada Bpk. Uskup Surabaya. Hal ini dilakukan karena diperhitungkan syarat-syarat untuk menjadi sebuah paroki sudah mencukupi. Saran Bpk. Uskup (Mgr. Hadiwikarto – Alm.) agar acara peresmian menjadi paroki itu dilaksanakan dalam misa khusus pada tanggal 25 Januari 2004.

Mengetahui hal tersebut Dewan Stasi Pogot lalu mengadakan persiapan-persiapan seperlunya. Dan akhirnya betul-betul menjadi kenyataan, hari Minggu tanggal 25 Januari 2004 Stasi Pogot diresmikan menjadi Paroki Ratu Pencinta Damai (Pogot). Peresmian dilakukan oleh Rm. Y. Haryanto, CM selaku Administrator Keuskupan Surabaya. Hadir dalam acara tersebut : Romo-romo yang pernah bertugas di Gereja RPD, Romo Antonius Sad Budianto CM sebagai Propinsial CM Indonesia, Romo-romo tamu,beberapa suster, Pengurus Dewan Paroki RPD, para undangan dan segenap umat RPD-Pogot.

Romo-romo yang bertugas di Stasi RPD adalah sebagai berikut :
1.Rm.Ch.Katidjanarso CM
2.Rm.L.Agus Sudaryanto CM
3.Rm.Yustinus CM
4.Rm.Anto De Brito CM
5.Rm.Antonius Yuni Wimarta CM
6.Rm.Yohanes Gani Sukarsono CM
7.Rm.Tandyasukmana CM

KETERANGAN KEWILAYAHAN PAROKI RPD

WIL LINGKUNGAN WILAYAH MELIPUTI KETUA LINGKUNGAN
A Anna 1 Endrosono, Wonokusumo, Wonokusumo Lor, Wonosari, Wonosari Lor, Wonosari Wetan Baru, Tenggumung Karya Lor, Wonokusumo Kidul Yosef Adi Widayat

Anna 2 Bulak Sari, Bulak Jaya, Wonosari Mulyo, Bulak Rukem, Tenggumung Wetan Yustinus Agus Nogroho

Anna 3 Bulak Banteng Lor, Bulak Banteng Baru, Bulak Banteng Kidul, Dukuh Bulak Banteng, Bulak Banteng Madya Robertus Sunardi T.A

Anna 4 Randu Barat, Randu Timur, Kedungmangu Selatan, Kedungmangu Timur, Platuk Donomulyo Yosef Bernadus Bambang Irawan
B Bernadet 1 Tenggumung Baru, Tenggumung Baru Selatan, Sidomulyo, Wonokusumo Jaya, Wonokusumo Pinggir. Laurensius Rua

Bernadet 2 Granting Baru, Sidotopo Wetan, Pogot Baru, Platuk Timur Fransiskus Kurniawan

Bernadet 3 Granting Selatan, Granting, Sidoyoso, Sidoyoso Wetan Rosa Subiakto

Bernadet 4 Sidotopo Wetan Luar, Sidotopo Wetan Baru, Sidotopo Wetan Indah, Sidotopo Wetan Mulya, Platuk Baru, Platuk Barat Martinus Aris Winarso
C Cicilia 1 Tanah Merah, Tanah Merah Utara, Kedinding Tengah Baru, Kalilom Agustinus Sugeng Harijanto

Cicilia 2 Bulak Rukem Timur, Bulak Cumpat, Bulak Kalitinjang, Bulak Bagorami, Kedinding Tengah Tengah Sekolahan, Nambangan Antonius Welly Herowanto

Cicilia 3 Tambak Wedi, Tambak Wedi Baru, Dukuh Bulak Banteng Timur, Kedinding Lor Maria Magdalena Marut

Cicilia 4 Pogot Lama, Pogot Jaya, Kaliom Baru Stephanus Suwardji
D Dorothea 1 Tuwowo Rejo, Tuwowo, Tuwowo Rejo Kali Yohanes Suswanto

Dorothea 2 Kapas Madya, Kapas Madya Barat Ignatius Suhartoyo

Dorothea 3 Kapas Jaya, Kapas Baru, Kapas Lor Wetan Agustinus Ganda Sukmana

Dorothea 4 Kapas Gading Madyas, Gading,Gading Karya, Dukuh Setro, Dukuh Setro Utara, Lebak Jaya, Setro Theresia Nyoman Sutari

Minggu, 07 November 2010

sejarah perang salib

Sejarah Perang SALIB


Awal mula Perang Salib adalah Perang antar Gereja dan Yahudi, jadi bukan bermula Perang antara Kristen dan Islam, yang penengertian umum saat ini.
Berkut adalah Riwayatnya:


Perang Salib Pertama dilancarkan pada 1095 oleh Paus Urban II untuk mengambil kuasa kota suci Yerusalem dan tanah suci Kristen dari Muslim. Apa yang dimulai sebagai panggilan kecil untuk meminta bantuan dengan cepat berubah menjadi migrasi dan penaklukan keseluruhan wilayah di luar Eropa.


Pengepungan Antioch, dari lukisan miniatur abad pertengahan selama Perang Salib Pertama.


Baik ksatria dan orang awam dari banyak negara di Eropa Barat, dengan sedikit pimpinan terpusat, berjalan melalui tanah dan laut menuju Yerusalem dan menangkap kota tersebut pada Juli 1099, mendirikan Kerajaan Yerusalem atau kerajaan Latin di Yerusalem. Meskipun penguasaan ini hanya berakhir kurang dari dua ratus tahun, Perang salib merupakan titik balik penguasaan dunia Barat, dan satu-satunya yang berhasil meraih tujuannya.

Meskipun menjelang abad kesebelas sebagian besar Eropa memeluk agama Kristen secara formal — setiap anak dipermandikan, hierarki gereja telah ada untuk menempatkan setiap orang percaya di bawah bimbingan pastoral, pernikahan dilangsungkan di Gereja, dan orang yang sekarat menerima ritual gereja terakhir — namun Eropa tidak memperlihatkan diri sebagai Kerajaan Allah di dunia. Pertikaian selalu bermunculan di antara pangeran-pangeran Kristen, dan peperangan antara para bangsawan yang haus tanah membuat rakyat menderita.

Pada tahun 1088, seorang Perancis bernama Urbanus II menjadi Paus. Kepausannya itu ditandai dengan pertikaian raja Jerman, Henry IV — kelanjutan kebijakan pembaruan oleh Paus Gregorius VIII yang tidak menghasilkan apa-apa. Paus yang baru ini tidak ingin meneruskan pertikaian ini. Tetapi ia ingin menyatukan semua kerajaan Kristen. Ketika Kaisar Alexis dari Konstantinopel meminta bantuan Paus melawan orang-orang Muslim Turki, Urbanus melihat bahwa adanya musuh bersama ini akan membantu mencapai tujuannya.

Tidak masalah meskipun Paus telah mengucilkan patriark Konstantinopel, serta Katolik dan Kristen Ortodoks Timor tidak lagi merupakan satu gereja. Urbanus mencari jalan untuk menguasai Timur, sementara ia menemukan cara pengalihan bagi para pangeran Barat yang bertengkar terus.

Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan Konsili Clermont. Di sana ia menyampaikan kotbahnya yang menggerakkan: "Telah tersebar sebuah cerita mengerikan ... sebuah golongan terkutuk yang sama sekali diasingkan Allah ... telah menyerang tanah (negara) orang Kristen dan memerangi penduduk setempat dengan pedang, menjarah dan membakar." Ia berseru: "Pisahkanlah daerah itu dari tangan bangsa yang jahat itu dan jadikanlah sebagai milikmu."

"Deus vult! Deus vult! (Allah menghendakinya)," teriak para peserta. Ungkapan itu telah menjadi slogan perang pasukan Perang Salib. Ketika para utusan Paus melintasi Eropa, merekrut para ksatria untuk pergi ke Palestina, mereka mendapatkan respons antusias dari pejuang-pejuang Perancis dan Italia. Banyak di antaranya tersentak karena tujuan agamawi, tetapi tidak diragukan juga bahwa yang lain berangkat untuk keuntungan ekonomi. Ada juga yang ingin berpetualang merampas kembali tanah peziarahan di Palestina, yang telah jatuh ke tangan Muslim.

Mungkin, para pejuang tersebut merasa bahwa membunuh seorang musuh non-Kristen adalah kebajikan. Membabat orang-orang kafir yang telah merampas tanah suci orang Kristen tampaknya seperti tindakan melayani Allah.

Untuk mendorong tentara Perang Salib, Urbanus dan para paus yang mengikutinya menekankan "keuntungan" spiritual dari perang melawan orang-orang Muslim itu. Dari sebuah halaman Bible, Urbanus meyakinkan para pejuang itu bahwa dengan melakukan perbuatan ini, mereka akan langsung masuk surga, atau sekurang-kurangnya dapat memperpendek waktu di api penyucian.

Dalam perjalanannya menuju tanah suci, para tentara Perang Salib berhenti di Konstantinopel. Selama mereka ada di sana, hanya satu hal yang ditunjukkan: Persatuan antara Timur dan Barat masih mustahil. Sang kaisar melihat para prajurit yang berpakaian besi itu sebagai ancaman bagi takhtanya. Ketika para tentara Perang Salib mengetahui bahwa Alexis telah membuat perjanjian dengan orang-orang Turki, mereka merasakan bahwa "pengkhianat" ini telah menggagalkan bagian pertama misi mereka: menghalau orang-orang Turki dari Konstantinopel.

Dengan bekal dari sang kaisar, pasukan tersebut melanjutkan perjalanannya ke selatan dan timur, menduduki kota-kota Antiokhia dan Yerusalem. Banjir darah mengikuti kemenangan mereka di Kota Suci itu. Taktik para tentara Perang Salib ialah "tidak membawa tawanan". Seorang pengamat yang merestui tindakan tersebut menulis bahwa para prajurit "menunggang kuda mereka dalam darah yang tingginya mencapai tali kekang kuda".

Setelah mendirikan kerajaan Latin di Yerusalem, dan dengan mengangkat Godfrey dari Bouillon sebagai penguasanya, mereka berubah sikap, dari penyerangan ke pertahanan. Mereka mulai membangun benteng-benteng baru, yang hingga kini, sebagian darinya masih terlihat.

Pada tahun-tahun berikutnya, terbentuklah ordo-ordo baru yang bersifat setengah militer dan setengah keagamaan. Ordo paling terkenal adalah Ordo Bait Allah (bahasa Inggris: Knights Templars) dan Ordo Rumah Sakit (bahasa Inggris: Knights Hospitalers). Meskipun pada awalnya dibentuk untuk membantu para tentara Perang Salib, mereka menjadi organisasi militer yang tangguh dan berdiri sendiri.

Perang Salib pertama merupakan yang paling sukses. Meskipun agak dramatis dan bersemangat, berbagai upaya kemiliteran ini tidak menahan orang-orang Muslim secara efektif.

1. Perang Salib Rakyat.
Perang Salib Rakyat adalah bagian dari Perang Salib pertama dan berakhir kira-kira enam bulan dari April 1096 sampai Oktober. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Salib Populer.

2.Perang Salib Jerman.
Perang Salib Jerman 1096 adalah bagian dari Perang Salib pertama di mana tentara perang salib rakyat, kebanyakan dari Jerman, tidak menyerang Muslim namun orang Yahudi. Meskipun anti-semitisme telah ada di Eropa selama berabad-abad, ini merupakan pogrom massal pertama yang terorganisasi. Dalam beberapa kasus, otoritas dan pemimpin keagamaan berusaha melindungi orang Yahudi.
3.
Perang Salib 1101 adalah sebuah perang salib dari 3 gerakan yang terpisah, diatur tahun 1100 dan 1101 setelah kesuksesan Perang Salib Pertama.

Perang Salib Pertama yang berhasil menyarankan panggilan bantuan dari Kerajaan Yerusalem yang baru dibentuk, dan Paus Paschal II mendorong adanya ekspedisi baru. Ia terutama mendorong yang telah melakukan janji perang salib namun tidak pernah berangkat, dan yang telah memutar balik selama perjalanan. Beberapa orang ini telah menerima caci maki di rumahnya dan menghadapi tekanan agar kembali ke timur; Adela dari Blois, istri Stephen, Raja Blois, yang telah melarikan diri dari Pertempuran Antiokhia tahun 1098, juga sangat kecewa dengan suaminya bahwa dia tidak akan mempersilahkannya tinggal di rumah.
4.
Perang Salib Kedua

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.

Perang Salib Kedua (berlangsung dari sekitar tahun 1145 hingga tahun 1149) adalah Perang Salib kedua yang dilancarkan dari Eropa, yang dilaksanakan karena jatuhnya Kerajaan Edessa pada tahun sebelumnya. Edessa adalah negara-negara Tentara Salib yang didirikan pertama kali selama Perang Salib Pertama (1095–1099), dan juga yang pertama jatuh. Perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III, dan merupakan Perang Salib pertama yang dipimpin oleh raja-raja Eropa, yaitu Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan dari bangsawan-bangsawan Eropa penting lainnya. Pasukan-pasukan kedua raja tersebut bergerak menyebrangi Eropa secara terpisah melewati Eropa dan agak terhalang oleh kaisar Bizantium, Manuel I Comnenus; setelah melewati teritori Bizantium ke dalam Anatolia, pasukan-pasukan kedua raja tersebut dapat ditaklukan oleh orang Seljuk. Louis, Conrad, dan sisa dari pasukannya berhasil mencapai Yerusalem dan melakukan serangan yang "keliru" ke Damaskus pada tahun 1148. Perang Salib di Timur gagal dan merupakan kemenangan besar bagi orang Muslim. Kegagalan ini menyebabkan jatuhnya Kota Yerusalem dan Perang Salib Ketiga pada akhir abad ke-12.

Serangan-serangan yang berhasil hanya terjadi di luar laut Tengah. Bangsa Flem, Frisia, Normandia, Inggris, Skotlandia, dan beberapa tentara salib Jerman, melakukan perjalanan menuju Tanah Suci dengan kapal. Mereka berhenti dan membantu bangsa Portugis merebut Lisboa tahun 1147. Beberapa di antara mereka, yang telah berangkat lebih awal, membantu merebut Santarém pada tahun yang sama. Mereka juga membantu menguasai Sintra, Almada, Palmela dan Setúbal, dan dipersilahkan untuk tinggal di tanah yang telah ditaklukan, tempat mereka mendapatkan keturunan. Sementara itu, di Eropa Timur, Perang Salib Utara dimulai dengan usaha untuk merubah orang-orang yang menganut paganisme menjadi beragama Kristen, dan mereka harus berjuang selama berabad-abad.

Latar belakang

Setelah terjadinya Perang Salib Pertama dan Perang Salib 1101, terdapat tiga negara tentara salib yang didirikan di timur: Kerajaan Yerusalem, Kerajaan Antiokhia, dan Kerajaan Edessa. Kerajaan Tripoli didirikan pada tahun 1109. Edessa adalah negara yang secara geografis terletak paling utara dari keempat negara ini, dan juga merupakan negara yang paling lemah dan memiliki populasi yang kecil; oleh sebab itu, daerah ini sering diserang oleh negara Muslim yang dikuasai oleh Ortoqid, Danishmend, dan Seljuk. Baldwin II dan Joscelin dari Courtenay ditangkap akibat kekalahan mereka dalam pertempuran Harran tahun 1104. Baldwin dan Joscelin ditangkap kedua kalinya pada tahun 1122, dan meskipun Edessa kembali pulih setelah pertempuran Azaz pada tahun 1125, Joscelin dibunuh dalam pertempuran pada tahun 1131. Penerusnya, Joscelin II, dipaksa untuk bersekutu dengan kekaisaran Bizantium, namun, pada tahun 1143, baik kaisar kekaisaran Bizantium, John II Comnenus dan raja Yerusalem Fulk dari Anjou, meninggal dunia. Joscelin juga bertengkar dengan Raja Tripoli dan Pangeran Antiokhia, yang menyebabkan Edessa tidak memiliki sekutu yang kuat.

Sementara itu, Zengi, Atabeg dari Mosul, merebut Aleppo pada tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di Suriah. Baik Zengi dan raja Baldwin II mengubah perhatian mereka ke arah Damaskus; Baldwin dapat ditaklukan di luar kota pada tahun 1129. Damaskus yang dikuasai oleh Dinasti Burid, nantinya bersekutu dengan raja Fulk ketika Zengi mengepung kota Damaskus pada tahun 1139 dan tahun 1140; aliansi dinegosiasikan oleh penulis kronik Usamah ibn Munqidh.

Pada akhir tahun 1144, Joscelin II bersekutu dengan Ortoqid dan menyerang Edessa dengan hampir seluruh pasukannya untuk membantu Ortoqid Kara Aslan melawan Aleppo. Zengi, yang ingin mengambil keuntungan dalam kematian Fulk pada tahun 1143, dengan cepat bergerak ke utara untuk mengepung Edessa, yang akhirnya jatuh ketangannya setelah 1 bulan pada tanggal 24 Desember 1144. Manasses dari Hierges, Philip dari Milly dan lainnya dikirim ke Yerusalem untuk membantu, tetapi mereka sudah terlambat. Joscelin II terus menguasai sisa Turbessel, tetapi sedikit demi sedikit sisa daerah tersebut direbut atau dijual kepada Bizantium. Zengi sendiri memuji Islam sebagai "pelindung kepercayaan" dan al-Malik al-Mansur, "raja yang berjaya". Ia tidak menyerang sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia, seperti yang telah ditakuti; peristiwa di Mosul memaksanya untuk pulang, dan ia sekali lagi mengamati Damaskus. Namun, ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 dan digantikan di Aleppo oleh anaknya, Nuruddin. Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tapi Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.

sejarah agama katolik

. Orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang Maluku, Kolano (kepala kampung) Mamuya (sekarang di Maluku Utara) yang dibaptis bersama seluruh warga kampungnya pada tahun 1534 setelah menerima pemberitaan Injil dari Gonzalo Veloso, seorang saudagar Portugis. Ketika itu para pelaut Portugis baru saja menemukan kepulauan rempah-rempah itu dan bersamaan dengan para pedagang dan serdadu-serdadu, para imam Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. Salah satu pendatang di Indonesia itu adalah Santo Fransiskus Xaverius, yang pada tahun 1546 sampai 1547 datang mengunjungi pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Ia juga membaptis beberapa ribu penduduk setempat.

sejarh edukasi

Sekilas Sejarah Pendidikan di Indonesia Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Jumat, 09 Maret 2007
Sekolah pendidikan dasar telah diperkenalkan oleh Belanda di Indonesia. Sekolah yang tadinya hanya untuk kalangan keturunan belanda, dengan etische politiek (kepotangan budi) di negara jajahan belanda (1870) mulai membuka sekolahan bagi kaum bumi putera (SR). Hal tersebut nampaknya juga akibat pengaruh faham humanisme dan kelahiran baru yang melanda negeri Belanda.
Program utamannya saat itu mungkin hanya untuk kepentingan Belanda juga (untuk meningkatkan produktivitas ditanah jajahannya). Untuk Perguruan tinggi dimulai dengan berdirinya sekolah-sekolah kejuruan. Misal STOVIA(1902) yang kemudia berubah jadi NIAS(1913) dan GHS adalah cikal bakal dari fakultas kedokterannya UI. Lalu juga Rechts School (1922) dan Rechthoogen School (1924) kemudian melebur jadi fakultas hukumnya UI. Juga disusul beberapa fakultas lainya.

Di Bandung dimana bung Karno sekolah juga berasal dari sekolah teknik THS (1920) dan di Bogor dibuat juga sekolah perkebunan (1941) adalah cikal bakal IPB sekarang. Bila kemudian didirikan UI (1950) atau UGM (1945) adalah leburan dari yang sudah ada dan kemudian ditambahkan fakultas lainnya. Perlu dicatat pula universitas tua lainnya seperti ITB (1959), IPB (1963), Unair (1963), dan universitas swasta tertua kita adalah UII (1948). Barangkali bisa dimaklumi bahwa pendidikan di Indonesia masih sangat muda dibanding pendidikannya Plato. Walaupun sebenarnya sejak jamannya pangeran Aji Saka (abad 3) telah diperkenalkan huruf jawa dengan mencontoh huruf di India selatan, jadi pemerintahan Jawa Dwipa sudah mengenal pendidikan.

Demikian pula abad 5 pendeta Budha memperkenalkan ajarannya (tentunya mengandung unsur pendidikan. Berdirinya Borobudur boleh di anggap sebagai parameter tingginya ilmu arsitektur (diabad 8) oleh Raja Sailendra Samaratungga. Dicatat pula Candi Prambanan (Hindu) yang elok itu dibangun di abad 9 jamannya raja Sanjaya. Raja agung Airlangga (1019) boleh dianggap raja paling toleran dan melindungi umat berbeda agama (hal ini tentunya tidak terjadi sebelumnya). Tidak kurang di Indonesia juga ada ahli filosuf atau mungkin sebagai nabinya wong jowo yaitu Raja Joyoboyo (1157), siapa yang tak kenal dengan primbonnya Joyo boyo.

Namun sayang selama perjalanan sejarah bangsa Indonesia selalu disertai dengan perang saudara (jauh sebelum Belanda datang, sudah cakar-cakaran, jangan hanya Belanda yang disalahkan sebagai provokator dengan politik adu kambinya, ternyata bakat ini belum hilang sampai sekarang). Bahkan Patih Gadjah Mada yang dianggap pemersatupun (dengan sumpahnya yang sakti) adalah hanya untuk penguasaan dan menunjukkan kehebatan Majapahit. Tentu ini juga berpengaruh pada pendidikan secara umum, dan sebaliknya bisa jadi pendidikan ikut mempengaruhinya. Menengok perjalanan sejarah bangsa Indonesia perlu dibahas tersendiri.

Gambaran sejarah pendidikan di Indonesia saat ini bisa dialami bersama. Dari gambaran diatas ternyata masalah pendidikan bukan sekedar tergantung pada teory dan ilmu pendidikan itu saja, tapi juga iklim social budaya dan politik ikut berperan. Namun bukan alasan untuk tidak memperbaharui kehidupan melalui pembaharuan konsep pendidikan itu sendiri. Jadi reformasi pendidikan adalah mutlak perlu dilakukan terus menerus sesuai perubahan pemahaman umat akan kehidupan itu sendiri.

Dimana Peter Drucker melihat pergeseran kebutuhan manusia, dari ekonomi yang berbasiskan benda tak bergerak dan jasa menuju ekonomi berbasiskan ilmu pengetahuan, perlu di renungkan. Lebih jauh Drucker mengemukakan bahwa tahapan agraris, industri dan kini informasi adalah tidak lama lagi tergeser pada era inovasi. Apa itu inovasi dan persyaratannya adalah bahan pekerjaan rumah bersama. Bila generasi kita saat ini setress gara-gara tidak tahu bahasa jawanya anak kerbau, atau hafalan lainya. Jangan disalahkan bila kemudian hari negara Indonesia menjadi negara terbelakang yang menunggu petunjuk, menunggu pemerintahannya waras, menunggu dan menunggu. Namun untung ada film anak-anak pokemon, digimon, tweenies, bob builder dan sejenisnya yang barangkali jadi hiburan anak sekaligus menjadi sarana berfantasi sambil berinovasi, dari pada ngerjakan PR paket pendidikan yang sarat dengan indokrinasi hukum-hukum matematika dan hukum lainnya yang harus dipatuhi tanpa syarat.